Home > METRO BERITA > GADGET & TEKNO > METRO TALK > Smartphone, Data Mentah Foto, dan Perubahan Sejarah

Smartphone, Data Mentah Foto, dan Perubahan Sejarah

Ilustrasi
Ilustrasi

SMARTPHONE merupakan ponsel yang memiliki fungsi utama sebuah komputer : komunikasi, internet, kamera, jejaring sosial, pekerjaan perkantoran, aplikasi, dan hiburan. Kebutuhan dasar itu, sesuai merk dan tipenya, memiliki fitur yang terus diperbaiki.

Smartphone tidak sekadar sebuah benda yang berfungsi, sebab, smartphone sudah berarti perilaku (behaviour).

Smartphone sudah selayaknya memiliki kebudayaan sendiri, seperti kopi, pohon jati, pecel, soto, sejak “terjadi” di Indonesia, memiliki budaya sendiri dan bertahan sampai sekarang.

Displin ilmu antropologi, seni, politik, sejarah, forensik, dan (tentu saja) komunikasi, bergeser setelah kedatangan smartphone.

Perilaku pemakai akan berubah pelan setelah memakai smartphone. Anda pasti punya sederet kalimat sendiri yang menjelaskan kebiasaan hidup (habit) dan perubahan perilaku “before” dan “after” memakai smartphone.

Kehadiran smartphone mengubah arti pertemanan (kekerabatan, publik, pendukung, berubah pula), bekerja, dan komunikasi. Salah satu ekses negatif smartphone adalah penurunan kinerja otak, di mana ruang pribadi dipenuhi “informasi tanpa pengetahuan”. Secara biologis, orang menggunakan otak yang berbeda saat “menulis tangan” dan “mengetik” saat chat.

Hidup bisa berubah, kata orang. Kecanduan smartphone lebih berat daripada kecanduan game dan jejaring sosial.

Kecanduan smartphone bisa karena fungsi camera. Betapa mudahnya membidik, upload, dan menandai foto. Anda mungkin sering (dianggap) memasang foto nggak penting, namun ini terjadi karena ada “hasrat mengarsipkan” sangat tinggi setelah ada jejaring sosial. Makanan, berpergian, ketemu kawan, tidak peduli sama dengan ribuan orang lainnya, yang penting arsipkan ke jejaring sosial.

Fitur menuliskan “Life Event” (kejadian penting dalam hidup) di Facebook tidak lagi penting.

Sore itu saya berbincang dengan beberapa kawan nelayan Rembang. Mereka menceritakan laut, hasil ikan, dan cara survive selama 27 hari di laut, dengan peristilahan yang belum saya mengerti. Kadang kosa kata mereka baru namun sudah saya kenal dari Discovery Channel.

Foto, menjadi penerjemah yang baik.

Saya baru mengerti foto pancing yang bisa mencapai kedalaman 1000+ meter dan foto lumba-lumba menyambar ikan terbang.

Mereka memakai Nokia Lumia S35, pemakaian baterai 4000 mAh (yang tahan 4 hari jika mengurangi pemakaian internet), dan camera kelas 16 Mpx ke atas. Koleksi fotonya bagus-bagus dan 90% bidikan sendiri. Mereka ini tidak mengumpulkan meme BBM, bahkan tidak terlalu suka Facebook dan Twitter.

Jika kelak kerang merah dan kuda laut menipis, mungkin negara akan mencari foto otentik para nelayan ini.

Faktor apa, selain estetika dan nilai berita, yang paling dicari dalam foto untuk data jurnalistik dan forensik digital? Otentisitas foto.

Microsoft memperkenalkan Lumia pada musim gugur 2013 yang bisa mengakses data RAW (DNG) dari hardware. Artinya : otentisitas foto terjaga. Kalau sudah melewati jejaring sosial, sebuah foto tidak lagi otentik. Facebook dan Twitter, sekadar informasi, pada versi mobile sudah menerapkan fitur filter image. Anda bisa memberikan efek vintage seperti Instagram, memperjelas (ehance), ataupun menampilkannya sebagai foto BW (black white, hitam putih).

Jika Anda upload foto ke jejaring sosial, foto itu sudah “diproses”, tidak lagi otentik. Kalau dipakai untuk kasus hukum, foto ini perlu dipertanyakan.

Jika menggunakan camera DSLR, data RAW masih tersimpan. Kalau dilihat dari komputer, akan terlihat : date/time, resolusi, nama dan tipe camera, bahkan (jika diaktifkan) geotag (penanda koordinat lokasi GPS).

Jika ingin upload file asli (belum diproses dengan aplikasi Microsoft Picture atau Photoshop, misalnya), Anda bisa memakai Google Drive, Picassa, atau Flickr. Ada banyak image hosting gratisan dengan kapasitas memadai untuk kepentingan pribadi. Vendor smartphone terkenal (misalnya, Samsung) dan aplikasi (misalnya, CM Security) menyediakan ruang tampung cadangan foto, gratis. Kalau kartu memory rusak, masih ada backup di server cloud yang bisa dikembalikan kapan saja.

Singkatnya, semua orang bisa menjadi pencatat sejarah, setidaknya sejarah dirinya sendiri, dengan smartphone. Kalau mau “ungkap kasus”, pastikan file foto asli masih Anda simpan. Pemakaian camera yang punya akses RAW ke hardware atau DSLR, bisa diandalkan.

Singkatnya, kalau mau memperkarakan seseorang dengan foto atau menyajikan data bersejarah, gunakan selalu foto otentik.

Suatu kali, saya pernah bertanya kepada seorang kawan yang menjadi juri dalam lomba foto dengan smartphone, sayangnya, tidak ada uji otentisitas (keaslian) foto. Lombanya lebih mirip lomba foto pemandangan dan adu aplikasi smartphone.

Kadang pemandangan biasa saat ini, akan menjadi informasi bersejarah pada masa nanti.

Serangan visual (visual attack) merupakan “terror” yang efisien untuk memainkan persepsi dan menceritakan peristiwa. Foto jurnalistik (foto yang mengandung nilai berita) bisa berbicara banyak. Jika diunggah ke jejaring sosial, dengan sedikit keterangan, bisa mengubah peta #trendingtopic sekarang.

Blogger yang suka AGC (auto-generated content), yang memelihara blog untuk mendapatkan recehan dolar tanpa perlu posting, serta beberapa pemain blackhat, sering “memakan” milik orang lain demi keuntungan pribadi. Penambang keyword yang menggelisahkan para pencari dengan Google, sering memakai cara jahat agar content dan gambar mereka tampil di halaman 1 hasil pencarian Google.

Selain itu, kebanyakan pemakai smartphone tidak terlalu “smart”. Mereka kurang mengerti pentingnya #hashtag. Mereka akan kalah dalam pencarian Google jika bersaing dengan blogger yang biasa mengakali mesin pencari. Otentisitas berhadapan dengan fungsi prosedural mesin pencari. Padahal setiap hari, jika Anda menilik update/feed teman di BBM, ditemukan foto-foto otentik.

Indexing (pendataan) content di Google hanya bisa ditertibkan jika para pemakai memiliki kesadaran terhadap pengungahan foto asli dengan memasukkan kata-kunci yang relevan.

Para pemakai smartphone sepenuhnya memiliki peran ini. Foto selalu bercerita diam-diam, menyimpan seribu kata.

Lihatlah betapa terkejutnya publik ketika ribuan nelayan turun ke jalan pantura dan memacetkan jalan. Semua foto beredar di BBM dan jejaring sosial, diakses semua orang, menjadi headline. Mungkin bukan hanya foto. Bisa video atau rekaman suara. Mulailah sejarah Anda, lebih baik lagi, dengan smartphone Anda, sejak hari ini.

Day Milovich,, 

Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Borobudur.