Home > METRO BERITA > Soal Dugaan ‘Siswa Siluman’, Ini Pembelaan SMA 1 Semarang

Soal Dugaan ‘Siswa Siluman’, Ini Pembelaan SMA 1 Semarang

METROSEMARANG.COM – SMA Negeri 1 Semarang diduga menerima siswa dengan nilai di bawah standar pada tahun ajaran 2016/2017. Dugaan ini mencuat setelah Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah menerima aduan dari masyarakat pada Kamis (21/7) lalu melalui email.

Sidak Ombudsman di SMA 1 Semarang, Senin (25/7). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Sidak Ombudsman di SMA 1 Semarang, Senin (25/7). Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Menurut aduan tersebut, ada seorang siswa yang tidak lolos masuk di SMAN 1 saat PPD karena nilainya hanya 29.40. Sementara batas minimal nilai terendah dalam rayon untuk dapat masuk ke SMAN 1 adalah 33.50. Namun saat hari pertama masuk sekolah, Senin (18/7) lalu siswa yang bersangkutan masuk di SMA favorit tersebut.

“Pelapor mengaku orangtua dari teman siswa yang bersangkutan. Anaknya yang nilainya 32 sekian tidak lolos, tapi kenapa yang 29 bisa lolos,” ungkap Achmad Zaid, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah saat melakukan sidak di SMA 1 Semarang, Senin (25/7).

Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala SMA 1 Semarang Wiharto mengaku tidak begitu tahu bagaimana hal tersebut terjadi. “Kami Insyaallah tidak melanggar regulasi apapun,” tegas Wiharto.

Dia berdalih tidak terlalu mengetahui proses penerimaan siswa baru, karena ia baru menerima tugas per 1 Juli 2016. Sementaraa saat itu PPD sudah ditutup.

Mengenai adanya siswa dengan nilai 29.40 tersebut ia mengakui kebenarannya. Namun menurutnya hal tersebut tidak melanggar regulasi apapun.

“Kalau ada siswa yang mengundurkan diri, maka dibolehkan ada yang mengisi kekosongan tersebut,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk siswa pengganti tersebut tidak ada peraturan atau mekanisme yang mengaturnya. Dengan demikian tidak ada batasan nilai atau syarat yang harus dipenuhi oleh siswa pengganti tersebut.

“Karena tidak ada peraturan wali kota, jadi kami juga tidak menetapkan batasan nilai atau yang lain,” imbuhnya.

Wiharto juga mengungkapkan bahwa pihak SMA 1 Semarang tidak menerima satu rupiah pun dari siswa. Ia juga menegaskan tidak mengenal orangtua siswa bersangkutan.

Menurutnya, siswa tersebut aktif untuk mencari informasi sehingga ia dapat mengetahui kekosongan kursi dan mengisi data untuk mendaftar. Sementara Wiharto mengaku baru mengetahui ada siswa yang mengundurkan diri pada Sabtu (23/7) lalu.

Ia juga menambahkan bahwa informasi mengenai kekosongan satu kursi akibat adanya satu siswa yang mundur juga tidak diinformasikan secara luas. Hal inilah kemudian yang menurut Ahmad Zaid menjadi rancu. Ketika informasi tersebut tidak dibuka secara luas, maka hanya orang-orang yang memiliki akses saja yang dapat mengetahui informasi tersebut.

“Makanya pasti dia punya akses, dan ternyata orangtuanya di Pemprov,” ungkap Zaid.

Menurut Zaid sebenarnya tidak masalah apabila memang untuk mengisi kursi kosong. Tetapi harusnya ada standar dan peraturan tentang hal tersebut. Setidaknya, kata dia, ketika nilai terendah adalah 33 maka siswa pengganti juga memiliki nilai tidak terlampau jauh dari nilai tersebut.

“Kami akan melakukan audit secara menyeluruh di sekolah di Semarang dan mengusulkan dibentuknya perwal (peraturan wali kota) terkait siswa cadangan. Apabila ada siswa yang mengundurkan diri maka otomatis siswa cadangan di urutan pertama yang akan diterima,” tegasnya. (vit)