Soal Penghapusan Angkot, Sopir Minta Pemerintah Jangan Lebai

Wacana penghapusan angkot dinilai hanya akan menghadirkan masalah baru. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Wacana penghapusan angkot dinilai hanya akan menghadirkan masalah baru. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

WACANA penghapusan angkutan kota (angkot) oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang bakal diganti  Bus Rapit Transit (BRT), tentu mengundang reaksi para sopir angkot. Seperti halnya sopir-sopir angkot di Sampangan. Mereka mengaku, kebijakan tersebut hanya akan menyusahkan masyarakat kecil.

Ketua paguyuban sopir angkot Sampangan, Darmono Harianggoro (44) mengatakan, dampak paling mendasar jika penghapusan angkot benar direalisasikan adalah nasib para sopir.

“Di Sampangan ada sekitar 100-150 angkot, setiap angkotnya ada juga yang dua sopir karena sistemnya shift (shift pagi dan shift siang) dan rata-rata umur mereka sudah 35 tahun ke atas. Kalau jadi dihapus, terus mereka mau di kemanakan? Pasti bakal menambah pengangguran,” ungkapnya.

Baginya, kebijakan pemkot terkait penghapusan angkot perlu dipertimbangkan lagi, serta harus ada observasi kembali agar tidak asal ketok palu. Menurut dia, selama ini angkot aman-aman saja dan terkondisikan.

“Setiap hari kami saling tukar cerita di Johar, hasilnya juga gak ada keluhan dari penumpang. Jadi nyaman-nyaman saja kan, jangan lebai,” tandasnya.

Dari informasi yang dia peroleh, sopir-sopir angkot akan diberi pembinaan dan gaji tetap untuk mengemudikan BRT. Namun, kata Darmono, hal tersebut perlu ada pengkajian ulang.

“Perbandingan angkot dan BRT, 100 banding 20. Tentu tidak semua bisa tersaring, bakal ada banyak sopir yang terbuang,” tambahnya.

Hal sama diungkap sopir angkot Sampangan yang lain, Heri. Ia sangat keberatan dengan rencana penghapusan angkot. “99% kita gak setuju. Jika dihapus, terus mau kerja apa?” ucapnya.

Heri menambahkan, nasib sopir Sampangan untuk saat ini sudah susah. Mereka hanya mengandalkan penumpang dari mahasiswa Unnes, apalagi ditambah adanya rencana penghapusan angkot.

“Sepi terus, mahasiswa banyak yang pakai motor. Waktu kumpul saja kelihatannya senang, tapi pas sore mau pulang rumah rasanya pingin nangis,” keluh Heri.

Biasanya, per hari dia harus setor Rp 60 ribu-Rp 70.000 untuk mobil yang biasa, kalau mobil bagus Rp 70 ribu-Rp 80 ribu. “Pendapatan bersih sopir rata-rata per hari maksimal Rp 60 ribu, tapi kalau sepi ya terkadang gak bayaran,” ungkapnya. (ans)

 

 

You might also like

Comments are closed.