Home > METRO BERITA > Fokus Metro Semarang > Soal Wacana Konsep City Walk di Jalan Pandanaran, Ini Kata Pengamat

Soal Wacana Konsep City Walk di Jalan Pandanaran, Ini Kata Pengamat

Kemacetan di Jalan Pandanaran dinilai sudah sangat parah, sehingga dibutuhkan solusi untuk mengurainya. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya
Kemacetan di Jalan Pandanaran dinilai sudah sangat parah, sehingga dibutuhkan solusi untuk mengurainya. Foto Metrosemarang/Ilyas Aditya

SEMARANG – Kawasan Jalan Pandanaran dianggap sebagai salah satu titik kemacetan terparah di pusat Kota Semarang. Selain sterilisasi parkir yang berlaku mulai 1 Desember 2014, sebelumnya juga sempat muncul wacana city walk di kawasan Pandanaran.

Gagasan city walk tersebut pernah diwacanakan oleh pengamat Perkotaan Kota Semarang M Farkhan, saat Pemkot Semarang merancang memindahkan parkir di Jalan Pandanaran ke halaman Museum Mandala Bhakti. Menurut dia, Pemkot bisa memanfaatkan jalan inspeksi di sepanjang Kali Semarang (belakang Lawang Sewu) sebagai area parkir.

“Kemacetan di Jalan Pandanaran bukan setiap waktu. Dengan konsep city walk akan lebih murah dan efisien. Apalagi perlu pembiayaan untuk pemeliharaan bus, pengadaan maupun perawatannya,” katanya.

Meski batal menggunakan halaman Museum Mandala Bhakti sebagai lahan parkir, namun Pemkot tetap memberlakukan sterilisasi parkir di Jalan Pandanaran. Parkir untuk pengunjung pusat oleh-oleh akan dialihkan ke Batan Miroto dan Jalan HOS Cokroaminoto. Dari lokasi tersebut, nantinya pengunjung akan diangkut menggunakan bus menuju Pandanaran.

Sementara, pakar transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno kurang sependapat dengan wacana konsep city walk di Jalan Pandanaran.  Menurutnya, konsep city walk kurang tepat jika diterapkan di Jalan Pandanaran.

“Perlu diketahui, city walk merupakan kawasan tanpa kendaraan. Selain itu, di samping kanan dan kiri jalan di kawasan city walk hanya ada pertokoan, tidak ada perkantoran,” terang dia. Sementara yang bisa dilihat, sebelah utara Jalan Pandanaran masih ditemui gedung-gedung perkantoran.

Dia menambahkan, kawasan di Semarang yang realistis dibentuk city walk adalah kawasan Johar, Semarang. Negara-negara di dunia sebagian besar sudah menerapkan kawasan city walk. “Di Indonesia belum bisa lantaran kebiasaan masyarakat yang terbiasa menggunakan kendaraan bermotor,” pungkasnya. (ade)