Home > METRO BERITA > KOLOM METRO > Sportivitas Tanpa Batas ala PSSI

Sportivitas Tanpa Batas ala PSSI

Ilustrasi
Ilustrasi

“Bermain bola itu untuk menang bukan untuk kalah. Mereka telah mencederai unsur utama sepakbola bahwa bermain bola itu untuk menang bukan untuk kalah.”

PSSI kembali bikin sensasi. Induk organisasi yang diketuai Djohar Arifin Husin itu memutuskan PSGC Ciamis dan Persiwa Wamena sebagai kontestan di babak semifinal Divisi Utama menggantikan PSIS Semarang dan PSS Sleman yang telah didepak karena dituding memainkan sepakbola ‘gajah’.

Keputusan yang dibacakan oleh Sekjen PSSI Joko Driyono pada 14 November 2014 itu sudah pasti menjadi kontroversi. Sportivitas dan semangat fair play yang selama ini begitu getol disuarakan PSSI saat insiden Stadion AAU Adisucipto yang melahirkan lima gol bunuh diri menjadi sorotan, ternyata justru mereka sendiri yang menodai.

Kutipan di atas merupakan ucapan yang dilontarkan Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Hinca Panjaitan mengenai alasan dicoretnya PSIS dan PSS dari babak 8 besar, 28 Oktober silam. Kedua tim dianggap mencederai sportivitas dalam olahraga. Bahkan, tidak ada ampun bagi mereka yang melanggarnya, sehingga kesempatan banding pun ditiadakan.

Dari ucapan Hinca sudah jelas bahwa tim yang tidak ada niat untuk memenangi sebuah pertempuran layak dihukum. Kembali ke soal penunjukan PSGC dan Persiwa sebagai wakil dari Grup P di babak semifinal. Kedua tim ini sama-sama mengantongi raport buruk dengan menolak bertanding alias walk over (WO) di fase 8 besar.

Persiwa tidak hadir saat mereka dijadwalkan bentrok kontra PSS di Kuningan, 18 Oktober. Saat itu, kubu pasukan Badai Pegunungan berdalih kehabisan dana. Tindakan serupa juga dilakukan PSGC. Laskar Galuh menolak berangkat ke Wamena di matchday terakhir babak 8 besar, 26 Oktober. Alasan PSGC cukup tegas bahwa mereka tidak ingin menghamburkan dana untuk sebuah pertandingan yang sudah tidak menentukan. Maklum, posisi PSGC saat itu dengan koleksi empat poin sudah tidak mungkin menggeser PSS dan PSIS.

Sampai sekarang, sanksi PT Liga Indonesia maupun Komdis terhadap kedua tim juga belum pernah terpublikasi. Hanya Persiwa yang mendapat sanksi pengurangan tiga poin dan dinyatakan kalah 0-3. Sedangkan PSGC justru masih melenggang. Indikasinya adalah daftar klasemen yang dirilis di situs resmi PT Liga Indonesia. Laskar Galuh masih mengoleksi empat poin, dan artinya tidak ada pengurangan poin atas tindakan mangkir dari pertandingan.

Maka, sangat pantas jika kemudian banyak pihak mempertanyakan keputusan PSSI dengan meloloskan Persiwa dan PSGC ke fase empat besar. Jika PSIS dan PSS dianggap menodai sportivitas karena tidak ada niatan untuk memenangi pertandingan, sebenarnya tindakan PSGC dan Persiwa dengan memilih kalah WO juga setali tiga uang dengan kesengajaan untuk mengalah. Bahkan, PSGC dan Persiwa untung secara finansial karena mereka tidak perlu keluar duit yang mencapai ratusan juta untuk sekali tandang ke Wamena atau terbang ke Jawa.

Lantas, sportivitas seperti apa yang diinginkan PSSI? Apakah statuta juga mengampuni tim yang menolak bertanding tanpa alasan yang kuat? Dengan aturan yang abu-abu tersebut, sudah sepantasnya jika salah satu pengurus PSIS berujar,”Kalau tahu seperti ini, lebih baik tidak usah datang ke Sleman. Toh, hanya dapat sanksi pengurangan tiga poin.”

Penunjukan PSGC dan Persiwa tersebut kembali membuat isu adanya tim pesanan yang akan promosi ke ISL kembali bergulir. Dengan kekuatan terkini kedua tim, PSGC maupun Persiwa bisa dibilang hanya sebagai sansak hidup.

Sejak fase 8 besar, kekuatan PSGC sudah dikebiri dengan sanksi larangan bertanding selama setahun yang dijatuhkan terhadap empat pemainnya, termasuk mesin gol mereka Emile Linkers. Sementara, Persiwa sudah membubarkan timnya sejak beberapa pekan lalu. Bahkan, saat mereka tandang ke Semarang, 22 Oktober, tim ini hanya berkekuatan 12 personel!

Apapun itu, keputusan sudah diketok PSSI. Inilah potret sepakbola Indonesia, yang selalu punya target ambisius tapi tak pernah punya keinginan untuk berbenah. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 Komentar

  1. Imam Steiyur Hufroni

    Beginilah Kondisinya.