Home > METRO BERITA > KOLOM METRO > Stop Syuting Film di Kota Lama

Stop Syuting Film di Kota Lama

Gd. Djakarta Lloyd di kawasan Kota Lama yang pernah digunakan untuk syuting film "Soekarno" (foto: @KotaSMG)
Gd. Djakarta Lloyd di kawasan Kota Lama yang pernah digunakan untuk syuting film “Soekarno” (foto: @KotaSMG)

Kota Lama, Semarang, memang mempesona. Dan kabar tentang eksotisme Kota Lama sudah tersiar hingga ke telinga para sineas Tanah Air sejak lama. Maka tak heran jika mereka kemudian memilih Kota Lama sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film yang digarapnya. Sebut saja film Gie, Soegija, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Sang Kyai, Soekarno plus film fenomenal, Ayat­Ayat Cinta, yang beberapa setting adegannya dilakukan di gedung Lawangsewu.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu Kota Lama terancam hilang, runtuh bercampur rata dengan tanah. Sebanyak 80 persen dari 105 bangunan yang telah diidentifikasi sebagai bangunan cagar budaya dalam kondisi lapuk. Kondisi ini diperparah dengan perilaku masyarakat yang cenderung mengeksploitasi bangunan yang sudah rapuh.

Digunakannya Kota Lama sebagai lokasi pengambilan gambar film berskala nasional memang membanggakan masyarakat Semarang. Namun, aktivitas syuting sebuah film yang melibatkan banyak kru dan peralatan yang cukup banyak dan berat justru dapat mempercepat keruntuhan bangunan bersejarah di kawasan ini.

Seperti halnya yang terjadi pada gedung menara kembar milik PT Perkebunan XV di Jalan Mpu Tantular. Menurut sang penjaga bangunan, gedung yang dibangun pada tahun 1887 ini sempat dijadikan lokasi pengambilan gambar sebuah film bergenre drama reliji. Padahal, gedung yang dulunya bernama NV Cultuur Maatschappij Der Vorstenlanden ini sudah dikosongkan lebih dari satu dasawarsa lantaran kondisi bangunan yang rapuh.

“Waktu itu syutingnya di lantai bawah. Orangnya banyak, pada gerudukan dan bawa barang­-barang banyak banget. Sebelum syuting, lantai bawah ditata sendiri sama mereka. Tapi setelah syuting, ditinggalkan begitu saja, enggak diberesin lagi,” kata si penjaga gedung yang enggan dituliskan namanya.

Hal yang hampir sama terjadi di Lawangsewu pasca syuting Ayat ­Ayat Cinta tahun 2007 silam. Ada sebuah ruangan yang digunakan sebagai kamar Maria, seorang tokoh dalam film tersebut, di mana pintunya ditempeli salib. Setelah syuting rampung, di pintu tersebut tersisa bekas kulit kayu yang mengelupas berbentuk salib.

Segala perilaku negatif sekecil apapun yang dilakukan terhadap bangunan cagar budaya haruslah dihentikan sejak awal. Jika tidak, bukan tidak mungkin jika bangunan cagar budaya di Semarang akan hancur akibat ulah masyarakat sendiri.

Pemugaran

Menyelamatkan bangunan cagar budaya utamanya dilakukan dengan kegiatan pemugaran. Namun pemugaran pun tidak semudah yang dikira. Ini karena proses pemugaran sebuah bangunan cagar budaya membutuhkan dana yang tidak sedikit, pun tenaga ahli yang terbatas jumlahnya.

Seorang Pelaksana Lapangan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Supardi mengatakan, konservasi yang dilakukan pada bangunan cagar budaya sifatnya hanya mempertahankan dan memperkuat, bukan mengganti material asli dengan yang baru.

Seperti yang ketika itu dikerjakannya, yakni merenovasi gedung PT Perkebunan XV di Jalan Mpu Tantular, yang satu dari dua menaranya sudah hancur dan bagian lantai 2 gedung itu hamper ambruk karena lapuk.“Pekerjaan kami memperkuat, bukan asal memperbaiki. Material asli sebisa mungkin dipertahankan. Jika ada kayu yang patah, tugas kami adalah membuat patahan itu utuh kembali dengan bahan tambahan. Jika asal mengganti, bisa­bisa membuang sejarah itu sendiri,” katanya saat ditemui pada pertengahan tahun 2012 silam.

Supardi mencontohkan proses pemugaran gedung PT Perkebunan XV, di mana tim konservasi melakukan penguatan dan penyambungan kayu-­kayu yang sudah keropos di bagian menara gedung yang tersisa. Sedangkan proses penambalan dinding bangunan luar yang sudah mengelupas, dilakukan dengan material yang hampir sama seperti bahan bangunan yang digunakan dahulu, yakni batu merah tumbuk dicampur dengan pasir dan gamping.

Material penambal memang tidak menyertakan semen, sebab dikhawatirkan lapisan dinding yang tidak terkena semen akan runtuh karena konstruksinya kalah kuat dengan bahan penambalnya. Sedangkan untuk bagian dalam bangunan induk yang digunakan untuk syuting, tim belum dapat melakukan pemugaran. Hal ini menjadikan proses pemugaran gedung PT Perkebunan XV belum final pada tahun 2012.

“Sebenarnya banyak yang harus dilakukan pada gedung ini, seperti bangunan di lantai 2. Kayu­-kayu yang menjadi penyangga lantai 2 dan atap sudah keropos. Kalau masih ada waktu dan dananya pasti kami akan perbaiki bagian lain gedung ini. Sayangnya anggaran kami terbatas. Bangunan yang harus diperbaiki pun tidak hanya gedung ini, jadi anggarannya dibagi­-bagi,” katanya.

Kampanye

Pascakonservasi, perawatan bangunan tetap harus dilakukan. Perawatan bangunan juga tidak bisa asal­-asalan seperti merawat rumah biasa. Tetapi harus tetap berhati-­hati agar tidak menyebabkan kerusakan pada bagian bangunan.

Lalu bagaimana peran serta masyarakat dalam menjaga bangunan cagar budaya? Masyarakat bisa mengkampanyekan melalui jejaring sosial agar bangunan cagar budaya di Kota Lama bebas dari kegiatan syuting film. Mengapa media sosial? Karena hampir semua orang kini tergabung dalam jejaring sosial. Dan dengan kampanye lewat media sosial, program kampanye diharapkan dapat menyentuh orang per orang masyarakat Semarang, lalu membuat mereka tergerak untuk bersama­sama menyelamatkan Kota Lama. (Laurentia Lucky TW)