Sudirman Said Prihatin Nasib Guru Honorer

METROSEMARANG.COM – Calon Gubernur Jawa Tengah bernomor urut 2, Sudirman Said berjanji bakal memberikan prioritas pada nasib para guru honorer yang ada di 35 kabupaten/kota.

Sudirman Said saat kampanye di Wonosobo. Foto: metrosemarang.com/istimewa

Saat berkampanye ke daerah-daerah, dirinya kerap bertemu dengan guru honorer yang kesejahteraannya tergolong memprihatinkan.

“Saya pernah bertemu seorang guru, saya tanya mengajar madrasah mana, kok ndak masuk? Ternyata dia masuk siang, lantas dia bercerita, honornya hanya Rp 10 ribu per hari, kalau tidak masuk ya tidak dapat honor,” ungkap pria yang berpasangan dengan Ida Fauziyah di Pilgub Jateng itu, Kamis (8/3).

Ia mengatakan minimnya gaji guru honorer masih banyak ditemukan di Jawa Tengah. Sudirman mengungkapkan akan menyelesaikan problematika kesejahteraan guru honorer.

“Bayangkan, masa depan seseorang dipertaruhkan dengan biaya Rp10 ribu per hari, ini perlu dibereskan, diperhatikan, karena mereka juga para pendidik yang mencerdaskan kehidupan bangsa,” tuturnya.

Guru, kata Sudirman, merupakan ujung tombak dunia pendidikan sekaligus berlangsungnya roda pembelajaran. Jika tingkat kesejahteraan guru rendah tentunya berimbas pada tak maksimalnya kualitas pendidikan.

Secara khusus, ia bahkan menyebut pembangunan manusia harus mendapat  prioritas pembangunan dibanding sektor lainnya.

“Saya lebih memilih membangun manusia terlebih dahulu dibanding membangun pabrik semen. Kita akan tata ulang APBD, infrastruktur penting, tapi manusia harus kita bangun,” jelasnya.

Pembangunan manusia melalui pendidikan, ia melanjutkan akan membentuk karakter siswa yang memiliki budi pekerti yang baik.

“Jika pembangunan manusia ini berjalan baik, maka tidak ada lagi masalah-masalah dalam dunia pendidikan, seperti siswa membully atau menganiaya gurunya, dan berbagai persoalan pendidikan lain yang akhir-akhir ini mencuat,” tegasnya.

Jika terpilih, Sudirman bakal mendorong berdirinya sekolah-sekolah vokasi di Jateng.

“Di 22 janji kerja saya dan Mbak Ida, kami mendorong sekolah vokasional yang memprioritaskan dan menghasilkan produksi lokal, maka dalam waktu lima tahun terjadi perubahan skill set di dunia pendidikan kita,” ujar Sudirman. (far)

You might also like

Comments are closed.