Home > METRO BERITA > Tak Kunjung Direlokasi, Pedagang Pasar Bulu Resah

Tak Kunjung Direlokasi, Pedagang Pasar Bulu Resah

SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang diminta tidak lagi menunda-nunda rencana memindahkan pedagang Pasar Bulu ke tempat baru. Lebih dari 2 tahun menempati pasar penampungan sementara mereka merasa resah. Apalagi, memasuki musim penghujan, perbaikan pasar tak kunjung selesai sempurna.

Galih,40, salah satu pedagang Pasar Bulu, mengatakan, merasa resah perbaikan pasar hingga memasuki musim penghujan, tak kunjung selesai juga. Padahal kondisi pasar penampungan sudah sangat tidak layak. Khawatir pembeli akan semakin berkurang hingga akhirnya bangkrut.

‘’Bagaimana tidak resah, semenjak pembangunan pasar konsumen menjadi berkurang, seringkali pembeli juga memilih belanja ke tempat lain. Apalagi musim hujan sudah mulai datang, ini sangat membuat resah saya,’’ kata pedagang kelontong ini, Selasa (18/11).

Dia mengatakan keberadaan di pasar penampungan sementara juga seringkali terjadi pungli (pungutan liar). Mengakibatkan para pedagang menjadi semakin resah. Kurang adanya ketertiban dan keamanan, membuat pedagang berharap secepatnya bisa pindah ke pasar baru.

Oleh karena itu, pedagang menyambut baik rencana Pemkot merelokasi pedagang ke pasar baru pada akhir bulan Desember ini. Menurutnya, pedagang memang memprioritas pembangunan pasar selesai sempurna dulu. Namun karena tinggal finishing maka berharap bisa secepatnya dipindah ke pasar baru.

‘’Sebab sudah mulai musim hujan, kondisi pasar sementara kumuh, bocor, dan sepi pembeli. Kami ingin pembeli menjadi ramai kembali seperti dulu dan ada ketertiban serta keamanan,’’ terangnya.

Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Mualim mengatakan, pihaknya juga mendukung rencana Pemkot, dalam hal ini Dinas Pasar, merelokasi pedagang ke pasar baru pada akhir bulan Desember nanti. Pihaknya akan ikut mengawasi rencana memindahkan para pedagang tersebut.

Salah satu yang akan diawasi, katanya, yaitu potensi terjadinya praktik jual beli kios di bawah tangan, baik yang dilakukan pedagang maupun oknum dari dinas. Menurutnya, dalam pembangunan pasar, praktik jual beli kios berpotensi terjadi.

‘’Kami akan mengawal prosesnya, untuk mengantisipasi jual beli kios di bawah tangan. Kami juga akan meminta data jumlah pedagang ke Dinas Pasar, untuk disinkronkan dengan data riil,’’ katanya.

Pihaknya akan meminta Dinas Pasar mengantisipasi sengketa pedagang jelang dan paska relokasi. Apalagi secara umum, bangunan yang ada belum sempurna dan masih ada perbaikan.

‘’Kami akan mendorong pemindahan sudah dilaksanakan akhir tahun ini, sesuai janji Dinas Pasar. Yang harus dilaksanakan Dinas Pasar, sejak sekarang harus melaksanakan langkah-langkah antisipasi persoalan, temasuk penyesuaian data,’’ katanya.

Dinas Pasar juga diminta menyiapkan sanksi jika ada oknum ataupun pedagang yang melakukan praktik jual beli kios. Tak hanya sanksi administrasi, tapi harus berani memberikan sanksi hukum, entah itu perdata atau pidana.

Sementara itu, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko, menegaskan, bahwa pedagang akan mulai masuk ke pasar baru pada pertengahan bulan Desember. Tak hanya di lantai satu, tapi seluruh pedagang yang berjumlah sekitar 1.300 akan masuk dan menempati lantai satu, dua, dan tiga.

‘’Pembangunan memang belum selesai 100%, masih ada finishing dan pembangunan lift. Tapi kebutuhan dasar untuk terjadinya aktivitas jual beli, seperti kios, listrik, air, tangga, eskalator semua sudah ada,’’ tegasnya.

Menurutnya, pedagang juga sudah dikelompokkan berdasarkan zonanisasi yang telah ditentukan. Dia menjamin tidak akan terjadi jual beli kios di bawah tangan, karena akan mengawasi. Namun jika terjadi, maka siap memberikan sanksi sesuai aturan berlaku. ‘’Yang jelas, jual beli kios dilarang, jika pedagang tak jadi menempati, harus dikembalikan ke Dinas Pasar,’’ tandasnya.(MS-13)