Home > Berita Pilihan > Di Tangan Pelajar Ini, Tas Kresek Disulap jadi Kostum Reog

Di Tangan Pelajar Ini, Tas Kresek Disulap jadi Kostum Reog

METROSEMARANG.COM – Berbagai inovasi yang dibuat para pelajar terus bermunculan. Salah satunya menyulap ragam barang bekas jadi sebuah kostum yang mampu memukau ratusan pasang mata yang ada di Rimba Graha Jalan Pahlawan Semarang, pada Minggu (25/9).

Kostum reog dari barang bekas karya mahasiswa Unika Soegijapranata. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Kostum reog dari barang bekas karya siswa SMA Negeri 5 Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Adalah Ade Sukma Pamungkas yang mampu merubah tumpukan tas kresek jadi sebuah topeng Reog. Ini tentunya, menurut Ade merupakan gerakan inovatif sekaligus tindakan untuk melestarikan budaya Indonesia.

“Saya bikinnya dua bulan dan Reog ini saya kerjakan sendiri,” kata Ade kepada metrosemarang.com.

Gelaran Green Campus Creativity bertajuk the beuty of recycle yang dihelat Unika Soegijapranata di Rimba Graha pum dimanfaatkannya untuk menampilkan kualitas reog daur ulangnya kepada masyarakat luas.

Ia yang sejak lama bergelut di dunia seni tari tradisional itu menilai, tak ada sesuatu yang buruk untuk menampilkan barang bekas kepada banyak orang.

Ia membuktikan dengan menggabungkan tas kresek dengan kardus bekas, akhirnya bisa menciptakan pernak-pernik kostum Reog.

“Saya terinspirasi dari Festival Jember Fashion Week dan cerita legenda Reog di tanah Ponorogo. Yang agak sulit utu pas bikin detailnya dan bunga-bunga pada kostumnya. Tapi syukurlah, karya saya diapresiasi banyak pihak,” kata pelajar yang masih duduk di jurusan IPA SMAN 5 Semarang ini.

Ia menambahkan semua barang bekas itu ditemukannya di toko kelontong milik ibundanya. Hasilnya, ia hanya menghabiskan dana Rp 500 ribu untuk merampungkan karyanya.

“Bekas rangka bangun rumah juga saya manfaatin untuk membuat pernak-pernik lainnya. Sedangkan Bulu-bulunya dari kemoceng,” sambungnya.

Dendy Bagus, panitia festival kostum daur ulang dari Unika Soegijapranata mengapresiasi atas apa yang dibuat oleh Ade di acaranya. Baginya, itu adalah sebuah barang inovatif yang mampu menginspirasi semua orang.

“Ada 15-20 yang ikut fesyen show. Kita pertama kali di luar kampus setelah tiga kali sebelumnya selalu menggelar di dalam kampus Unika,” terangnya sembari menyatakan bahwa ia melihat gelaran tadi masih di bawah ekspektasinya karena ada beberapa kendala teknis yang menghambat ketepatan waktu dan keramaian pengunjung.

Sementara acara fesyen show kostum barang bekas itu dimulai pukul 10.00 WIB dan kelar 10.30 WIB. Acara juga diselipi stand makanan murah meriah dan panggung musik. (far)