Home > Berita Pilihan > Tergiur Kerja di Karaoke, Empat Gadis Kendal Dijual jadi PSK

Tergiur Kerja di Karaoke, Empat Gadis Kendal Dijual jadi PSK

METROSEMARANG.COM – Empat orang gadis asal Kendal, menjadi korban perdagangan manusia di Kota Surabaya. Korban yang berinisial MG (16), EN (14), SS (16) serta MR (20) itu terpikat bujuk rayu dan justru terperangkap dalam lingkaran prostitusi.

Para pelaku human trafficking saat gelar perkara di Mapolda Jateng, Rabu (21/9). Foto: metrosemarang.com
Para pelaku human trafficking saat gelar perkara di Mapolda Jateng, Rabu (21/9). Foto: metrosemarang.com

Kasus tersebut bermula ketika para korban menerima tawaran dari pelaku bernama Hesti Winarni (29) dan Sulistyo (26) warga Limbangan, Kendal, untuk menjadi pemandu karaoke pada 17 Agustus 2016 lalu. Tertarik dengan fasilitas yang ditawarkan, mereka pun terpikat.

Namun, tawaran tersebut hanya akal licik pelaku. Melalui seorang perantara,  Budi Santoso (48) warga Singorojo, Kendal, para korban justru digiring menuju Surabaya untuk menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) kepada seorang mucikari bernama Nasimin (56).

Di dalam rumah bordir milik Nasimin, Wisma Romantik di Jalan Sememi Jaya, Surabaya, para korban dipasang tarif Rp 170 ribu untuk sekali menemani pria hidung belang.

“Para pelaku mempunyai perannya masing-masing. Ada yang bertugas sebagai perekrut, perantara dan penampung. Tiga dari keempat korban masih di bawah umur,” kata Direskrimum Polda Jateng, Kombes Pol Gagas Nugraha, di Mapolda Jateng, Rabu (21/9).

Dikatakan Gagas, para pelaku juga memperoleh keuntungan yang berbeda. Untuk perekrut dibayar mucikari Rp 500 ribu, perantara Rp 2,5 juta, sementara penampung memperoleh keuntungan setengah dari pengasilan korban setelah melayani pelanggan.

Kasus tersebut terbongkar setelah salah seorang korban melapor ke keluarganya. Laporan tersebut pun diteruskan ke polisi dan langsung dilakukan penyelidikan.

“Pelaku kami tangkap di tempat yang berbeda-beda. Saat ini masih terus kami kembangkan,” imbuhnya.

Bersama pelaku petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti ijazah dan akte korban, empat buah ponsel, satu unit mobil, buku harian wisma serta sebungkus alat kontrasepsi. Para pelaku dijerat pasal berlapis tentang perlindungan atau eksploitasi anak dan perdagangan manusia dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. (sap)