Home > METRO BERITA > KOLOM METRO > Thomas Karsten, Sosok Pencipta Lanskap Kota Semarang

Thomas Karsten, Sosok Pencipta Lanskap Kota Semarang

Suasana Pasar Johar antara tahun 1928-1942, salah satu pasar rancangan Karsten (foto koleksi Tropenmuseum)
Suasana Pasar Johar antara tahun 1928-1942, salah satu pasar rancangan Karsten (foto koleksi Tropenmuseum)

Berbicara soal awal mula penataan kota Semarang di masa lalu tidak bisa dilepaskan dari seorang Herman Thomas Karsten. Pria kelahiran Amsterdam, 22 April 1884 ini, adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman yang dengan tangan dinginnya telah melahirkan sejumlah bangunan unik dan istimewa, yakni Pasar Johar, Pasar Jatingaleh, Pasar Randusari, Rumah Sakit Elisabeth, Taman Diponegoro, Djakarta Lloyd Stoomvart Nederland, Javaanse Schouwburg Sobokartti, Zustermaatschappijen de Semarang, Kampung Senjoyo, Mlatiharjo dan Progo.

Keunikan Karsten terletak pada gagasannya yang menata kota sesuai dengan kultur asli tiap daerah. Karsten tidak menciptakan desain bangunan yang seolah memindahkan Eropa ke Jawa. Sebaliknya, Karsten membuat bangunan yang kental akan nuansa Jawa di bumi Jawa. Bandingkan saja gedung Javaanse Schouwburg Sobokartti dengan Schouwburg Marabunta. Sama-­sama indah, namun berbeda rasa dan nuansa.

Mengapa Karsten begitu pro­Jawa? Mungkin hal ini karena darah Jawa mengalir di nadinya. Ayah Karsten adalah seorang warga Belanda yang cukup berpendidikan, sedangkan ibunya adalah penduduk pribumi Jawa Tengah. Istrinya, Soembinah Mangunredjo, yang dinikahinya tahun 1921, pun orang pribumi, meski ada darah keturunan Swiss di nadinya.

Rasa cinta Karsten akan budaya dan tanah Jawa makin menguat ketika dia menginjakkan kaki di Hindia Belanda, atas undangan dari Henri Maclaine Pont, seniornya saat kuliah. Di Hindia Belanda, karir Karsten sebagai insinyur arsitektur dimulai. Dia menjadi perencana kota di kota-­kota berkembang di bawah pemerintahan Hindia Belanda, seperti Batavia, Bandung, Buitenzorg (Bogor), Semarang, Surakarta, Malang, Purwokerto, Palembang, Padang, Medan, Banjarmasin dan Magelang.

Semarang merupakan kota yang berkesan di mata Karsten. Di jaman dulu, Semarang mirip dengan kota Amsterdam, baik soal intelektualitas warganya juga tentang pergerakan masyarakat waktu itu. Di Semarang tidak hanya terdapat warga Belanda saja melainkan juga penduduk keturunan Tionghoa yang sangat kaya serta warga pribumi kelas menengah yang mengenyam pendidikan Barat. Namun Karsten pun mendapati banyaknya warga keturunan campuran dan penduduk pribumi kelas bawah yang hidup termarjinalkan. Hal inilah yang kemudian menginspirasi Karsten untuk menciptakan kota di mana seluruh warganya, tanpa memandang kelas, ras dan golongan, dapat berbaur dan menciptakan suatu pemukiman yang multi­kultur.

Keistimewaan bangunan rancangan Thomas Karsten tidak hanya dapat Anda lihat di Semarang, melainkan juga di kota lain seperti Jakarta (Tugu Monas), Solo (Pasar Gede, Gapura Mangkunegaran, Masjid Al Wustha Mangkunegara, Lapangan Manahan, dan Stasiun Balapan), Magelang (kawasan Kwarasan dan Menara Air di Alun­alun Magelang). (ren)