TNI Siap Ubah Makam Soen An Ing jadi Wisata Religi

METROSEMARANG.COM – Perayaan haul Soen An Ing di TPU Argorejo, Semarang, berlangsung meriah pada akhir pekan kemarin. Selain dimeriahkan tausiah dari dua ulama berdarah Tionghoa, haul Soen An Ing juga semarak lantaran terdapat atraksi musik hadrah dari 18 personel Skadron 11 Serbu Penerbad Semarang.

Sejumlah jemaah menghadiri haul Soen An Ing di komplek TPU Argorejo. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Serka Usman, anggota Skadron 11 Serbu Penerbad sekaligus panitia acara menjelaskan, adanya haul Soen An Ing semata ingin membangkitkan nilai sejarah sekaligus menunjukkan bahwa Soen An Ing merupakan alim ulama yang tersohor pada masanya.

“Selama ini orang-orang salah kaprah menyebut kawasan Sunan Kuning sebagai pusat lokalisasi. Sebab, penamaan Sunan Kuning berasal dari kata Soen An Ing, seorang ulama Tionghoa yang dimakamkan di Bukit Argorejo,” ungkap Usman kepada metrosemarang.com, Senin (12/3).

Ia pun bersyukur bahwa semua warga Argorejo khususnya di lingkungan RW II Taman Sri Kuncoro mendukung penuh penyelenggaraan haul tersebut.

Bahkan, diakuinya pula jumlah jemaah yang datang diluar ekspektasinya. Dari semula hanya mengundang 100 orang, namun saat acara berlangsung, jumlahnya mencapai lebih dari 300 orang.

“Soen An Ing punya nama lain Raden Darendri. Beliau anak Amangkurat IV yang ikut berjuang melawan VOC sekaligus syiar Islam di pesisir Jawa,” imbuhnya sembari menceritakan perjalanan hidup singkat sang ulama.

Ia berharap haul Soen An Ing supaya ke depan menjadi agenda tahunan Kota Semarang. Dengan begitu, pemerintah memberi perhatian lebih agar haul Soen An Ing mendapat pendanaan untuk membenahi areal pemakaman serta menjadikan wisata religi.

“Biar haulnya dapat menyaingi wisata lainnya sekitar Semarang,” tukasnya.

Sedangkan Yongkie Tio, Sejarahwan Semarang menyebut sepak terjang Soen An Ing telah tercatat dalam buku sejarah Indonesia berjudul Babat Pecinan. Soen An Ing anak Amangkurat IV yang ikut berjuang menumpas penjajahan kolonial Belanda.

“Dari penyebutan Soen An Ing, banyak orang keseleo lidah menyebut kompleks lokalisasi jadi Sunan Kuning. Tentunya ini tindakan yang tidak sopan sekali,” katanya.

Siti Qomariyah, kuncen makam Soen An Ing menambahkan pada hari tertentu banyak warga peranakan Tionghoa yang bersembahyang di depan makam Soen An Ing.

Yang datang pakai rombongan bus dari Surabaya, Sukorejo Kendal, Yogyakarta maupun daerah sekitar Semarang. Di dalam makam tersebut, terdapat sebuah dupa, kongco serta makam yang diyakini berisi jasad sang kyai. (far)

You might also like

Comments are closed.