Home > METRO BERITA > Tungdeblang dan Kisah-Kisah yang Berserakan

Tungdeblang dan Kisah-Kisah yang Berserakan

image
Anggota Forum Rembug Socmed berfoto selfie di Malam Terakhir Leresto Tungdeblang, Jumat (31/10). (foto: Metro Semarang/MS - 08)

SEMARANG – Leresto Tungdeblang (TDB) benar-benar merealisasikan janjinya untuk berhenti beroperasi. Jumat (31/10) malam ini adalah malam terakhir untuk kafe di Jalan Sultan Agung 107 Semarang ini.

Metro Semarang yang menyambangi TDB di malam terakhir menyaksikan betapa banyak anak muda Semarang yang tidak ingin melewatkan saat-saat terakhir kafe legendaris ini. Ada yang membawa pasangan, keluarga dan teman-teman sekomunitas. Mereka ramai bercanda, tertawa, dan berfoto selfie. Ada juga yang sendiri, mungkin mengenang mantan pacar atau selingkuhan yang pernah diajaknya kemari.

Ya, TDB memang bukan sembarang kafe. Sejak 2004 berdiri, begitu banyak warga Semarang dan kaum pendatang menghabiskan malam dengan bermain billiard, makan nasi goreng, atau sekadar ngopi. Banyak kisah bahagia seperti bertemu cinta pertama bahkan menikah di sofa cokelat yang ada di bagian dalam kafe ini. Tak kurang juga cerita sedih yang tentunya menghadirkan senyum sekaligus getir di hati.

Ya, TDB sudah 10 tahun berdiri. Tidak hanya sekadar untuk nongkrong atau makan dan minum, TDB juga sering menggelar acara-acara dari diskusi, musik, bazaar hingga seni budaya. TDB menjadi tempat kelahiran atau mendampingi pertumbuhan sejumlah band dan komunitas di Kota Semarang. Bagi anak-anak social media, TDB adalah salah satu wadah yang mengiringi berdirinya Forum Rembug Socmed.

Tak hanya level lokal, sejumlah musisi Nasional seperti Benny Likumahua, Harry Toledo, Judika, Balawan, Ello, Endank Soekamti, Poppie, dan Seventeen pernah tampil di panggung TDB. Para  budayawan sekelas Djadoek Ferianto, Sujiwotejo, dan KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus pernah ngopi dan diskusi. Bahkan artis Nikita Mirzani pernah pamer tato di sini.

Dan di malam terakhir ini, TDB menggelar pesta perpisahan bertajuk “Terlalu Manis untuk Dilupakan”. Acara yang sudah berlangsung dari Rabu 29 Oktober itu diisi dengan bazzar clothing festival yang diisi brand dari Kota Semarang (BAZSANG). Acara yang dibuka pukul 16.00 sampai 22.00 ini memperkenalkan industri kreatif clothing di Semarang. Brand-brand yang ambil bagian adalah Prigel, NNKA, Ruff, I Wear August, Uppercase, Maxclo , Oudestad, STUCK, Lunar Anything, Bullriver, Moonwalk, Spectrum, Glow, dan Teeramizzo.

Selain itu ada juga parade band dengan penampil Komunitas Lumpia Music. Diantaranya Celo, Lemon Slice, Barley Down, Bertiga, Warrior Door, Smoke, Free Shacet, Hello Next, The Way of Life, Jackass Blues, The Cloves dan Sunan Kuning.

Pada puncak acara Malam Terakhir TDB Jumat malam diisi band dan para talenta yang pernah lahir, tumbuh dan berkembang bersama TDB. Diantaranya Komunitas Jazz Ngisoringin, Delight, Komunitas Lumpia Music, Komunitas Bcos Beatbox Semarang, Tiga Band, Coffee Break, 024st, Minrev, Delight, The Jumper dan AbsurdNation. Sembari menikmati musik, pengunjung disuguhi layar besar yang menampilkan foto-foto kenangan dan testimoni dari owner dan para kru kafe.

Meriahnya acara dan daftar panjang band pengisi itu memang terasa tidak biasa untuk sebuah acara penutupan kafe. Tapi seperti dinyatakan tadi, TDB memang bukan kafe biasa. Sebagian pelanggan bahkan menganggap TDB bukan kafe, tapi rumah teman yang menjadi tempat jujugan jam berapapun tanpa rasa sungkan atau basecamp komunitas yang selalu disambangi di kala senggang.

Dan begitupun berat, berakhirnya romantisme TDB pada pukul 02.00 Sabtu (1/11) dini hari harus dilepas dengan ikhlas. Kisah-kisah yang berserakan di masa 10 tahun ini semoga dapat segera disusun kembali menjadi kafe baru yang tak kalah syahdu dan cozy. Tapi bila pun tidak, setidaknya dapat menginspirasi kafe-kafe lain untuk meniru konsistensi TDB sebagai salah satu kantong seni budaya Kota Semarang. (MS-08)