Home > METRO BERITA > METRO GAYA > Imlek Semarang > Tunjukkan Keberagaman, Warga Semarang akan Rayakan Cap Go Meh bersama Tokoh Lintas Agama

Tunjukkan Keberagaman, Warga Semarang akan Rayakan Cap Go Meh bersama Tokoh Lintas Agama

METROSEMARANG.COM – Puluhan ribu warga Kota Semarang diperkirakan tumplek-blek di pelataran Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) untuk merayakan Cap Go Meh bersama umat lintas agama, pada Minggu (19/2) nanti.

Ketua PSMTI Jateng, Dewi Susilo Budiharjo memberikan keterangan terkait perayaan Cap Go Meh di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Mereka nantinya akan berbaur menjadi satu dengan masyarakat Tionghoa yang punya populasi yang cukup banyak di Kota Lumpia.

Perayaan Cap Go Meh yang diinisiasi oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah ini bakal menghadirkan rangkaian acara unik. Cap Go Meh atau lebaran ketupat khas Tionghoa nantinya dimeriahkan pemecahan rekor Muri.

“Kita ingin melebihi rekor Muri yang ada di Kabupaten Berau sebagai pemakan lontong Cap Go Meh. Bila dahulu ada 11 ribu warga Berau masuk rekor Muri, maka warga Semarang akan memecahkan rekornya dengan jumlah yang melebihi angka tersebut. Sehingga Semarang jadi pilot project bagi Indonesia. Ini sekaligus sumbangsih kita bagi tanah air,” ungkap Dewi Susilo Budihardjo, Ketua PSMTI Jateng, saat mempersiapkan acaranya, Selasa (14/2).

Acara pemecahan rekor dikemas dalam tajuk Pelangi Merajut Nusantara. Untuk menyukseskannya, ia pun mengajak kepada semua warga Semarang serta para tamu undangan untuk menyantap lontong Cap Go Meh sepuasnya. “Dihidangkan gratis saat acara berlangsung,” urainya.

Dengan begitu, ia optimistis mampu mengukir rekor Muri. Menariknya, perayaan Cap Go Meh di areal masjid akan menghadirkan tokoh-tokoh istimewa, macam Kyai Haji Mustofa Bisri, Habib Lutfi Yahya, Pastor Paroki Kristus Raja Ungaran, Romo Aloysius Budi Purnomo hingga pejabat terkait.

“Tokoh lintas agama tampil dalam diskusi untuk menunjukkan kekayaan dan keberagaman Indonesia. Dan masih ada lagi dari pemuka agama Budha dan Kristen,” jelasnya.

Ia pun menyebut acaranya akan jadi agenda tahunan kota, sehingga pada masa mendatang akan jadi potensi pariwisata untuk menarik minat para turis asing maupun lokal. “Inilah akulturasi budaya yang sesungguhnya dan keberagaman yang indah dalam perbedaan,” akunya.

Warga yang ikut tak cuma menyantap lontong Cap Go Meh secara gratis. Mereka juga bisa mendaftar untuk memperoleh kaos sebagai buah tangan. (far)