UIN Walisongo Bedah Tiga Kitab Pegon Jawa Karya Mbah Bisri

METROSEMARANG.COM – Kitab yang dikarang oleh KH Bisri Mustofa Rembang, ayahanda Gus Mus disebutkan memiliki pesan sejarah dan nasionalisme. Mbah Bisri disebut merupakan sosok ulama Jawa yang sangat luar biasa dan karyanya sangat banyak.

Drs Anasom MHum (ujung kiri), Dr Abu Rokhmad MAg dan M Rikza Chamami membedah tiga Kitab Pegon Jawa karya KH Bisri Mustofa dalam Diskusi Anggoro Manis PPIBJ di metting room LP2M UIN Walisongo. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

‘’Kita harus banyak berguru dari karya beliau yang berjumlah 176 kitab dan buku,’’ kata Drs Anasom MHum, Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) UIN Walisongo.

Hal itu diungkapkannya saat diskusi membedah tiga Kitab Jawa Pegon karya Mbah Bisri, yaitu: Tafsir Al Ibriz, Tarikhul Auliya’ dan Ngudi Susilo yang digelar PPIBJ di metting room LP2M UIN Walisongo Semarang, Selasa (20/2) kemarin.

Diskusi ini digelar melihat banyaknya kitab karya Mbah Bisri. Menurut M Rikza Chamami, dosen FITK UIN Walisongo yang membedah Kitab Ngudi Susilo, tiga kitab yang dikupas ini jelas memberikan warna karya ulama Jawa yang sangat peduli terhadap sejarah dan nasionalisme.

‘’Pesan nilai sejarah Walisongo hingga kemerdekaan Indonesia ditulis secara rapi oleh Mbah Bisri dalam Kitab Tarikhul Auliya’. Sedangkan pesan-pesan mencintai agama dan negara ditulis dalam Kitab Ngudi Susilo,’’ kata M Rikza.

Sedangkan Dr Abu Rokhmad MAg, dosen FISIP yang membedah Tafsir Al Ibriz, juga menyampaikan kehebatan karya Mbah Bisri. Menurutnya, dulu tidak ada yang bisa menerjemahkan 30 juz tafsir yang dikarang Mbah Bisri karena saking sempurnanya. ‘’Setiap ada yang mau menerjemah selalu gagal di tengah jalan,’’ kata Abu Rokhmad.

Menurutnya, tujuan Mbah Bisri menulis tafsir Al Ibriz ini jelas agar masyarakat Jawa yang tidak paham bahasa Arab, bisa mengetahui artinya dengan bahasa Jawa.

‘’Ada pola makna gandul khas pesantren dan terjemah bebas dalam tafsir Al Ibriz ini,’’ jelas Abu Rokhmad.

Bahkan tafsir Al Ibriz ini, tegasnya, sudah dipakai untuk mengajar para Kyai di semua pesantren di Indonesia bahkan di Malaysia, Brunei dan Thailand.

‘’Pelajaran yang bisa diambil dari ketokohan Mbah Bisri adalah untuk menjadi orang luar biasa bisa dimulai dari orang biasa. Generasi muda saat ini juga perlu meniru produktifitas para ulama dalam menerbitkan kitab dan buku yang dijadikan bekal referensi di masa mendatang,’’ tandasnya. (duh)

 

You might also like

Comments are closed.