Home > METRO BERITA > Warak Ngendog di Pandanaran Simbol Keberagaman Etnis Semarang

Warak Ngendog di Pandanaran Simbol Keberagaman Etnis Semarang

METROSEMARANG.COM – Patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran menjadi simbol keberagaman etnis, suku, dan umat beragama di Kota Semarang. Sebagai penanda bahwa perbedaan tidak boleh dijadikan sebagai sumber konflik tapi justru keselarasan.

Warak Ngendog di Taman Pandanaran dinilai sebagai simbol keberagaman etnis di Semarang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Warak Ngendog di Taman Pandanaran dinilai sebagai simbol keberagaman etnis di Semarang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Hal itu disampaikan oleh Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, saat Apel Besar Kebhinnekaan Cinta Damai tingkat Kota Semarang di halaman Balai Kota, Jumat (18/11) pagi.

Apel diikuti oleh unsur TNI/Polri, PNS Pemkot Semarang, Lembaga Swadaya Masyarakat, pelajar, serta masyarakat umum. Kepada media, wakil wali kota mengatakan, keberagaman etnis, suku dan agama di Semarang berjalan damai.

Keselarasan terlihat dengan keberadaan tempat ibadah seperti Masjid Agung Kauman, Klenteng Tay Kak Sie, Gereja Blenduk, Pura Agung Girinata, hingga Vihara Budhagaya.

Apel Besar Kebhinnekaan Cinta Damai tingkat Kota Semarang di halaman Balai Kota, Jumat (18/11) pagi. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh
Apel Besar Kebhinnekaan Cinta Damai tingkat Kota Semarang di halaman Balai Kota, Jumat (18/11) pagi. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Sejarah panjang keberagaman yang hidup selaras di Semarang, kata wakil wali kota yang akrab disapa Ita, juga terlihat di Kota Lama Semarang. ”Seperti di Kota lama dengan adanya Kampung Kauman, Kampung Melayu, Pecinan, dan Little Netherland,” kata Ita.

Melalui Apel Kebhinnekaan ini diharapkan dapat meningkatkan kembali rasa keberagaman. Semua warga diminta harus ikut menjaga dan mendukung tugas pemerintah menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.

Perbedaan diakui memang menjadi salah satu potensi konflik, tapi kesatuan dan persatuan harus dijaga dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. (duh)