Home > METRO BERITA > Warga Sawojajar Minta Pengukuran Ulang Lahan Rel Ganda

Warga Sawojajar Minta Pengukuran Ulang Lahan Rel Ganda

image
Ilustrasi rel kereta api. Foto Metro/MS-05

SEMARANG – Warga pemilik tanah dan bangunan yang hendak digunakan untuk pembangunan double track (rel ganda) di Kota Semarang minta pengukuran ulang lahan. Mereka menuding terjadi pengurangan ukuran. Sehingga menjadikan mereka rugi dalam proses penjualan lahan ke pemerintah.
 
‘’Kami ingin diukur ulang sesuai dengan yang disosialisasikan dulu,’’ kata Gatot Sriyono, perwakilan warga pemilik lahan  dari Kampung Sawojajar, Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, saat mengadukan masalahnya kepada dewan di kantor DPRD Kota Semarang, Kamis (7/8/2014).
 
Gatot bersama 68 warga Sawojajar yang tanahnya digunakan untuk pembangunan rel ganda mengadukan adanya penyusutan lahan yang seharusnya untuk pembangunan jalur kereta itu. ‘’Rata-rata terjadi penyusutan lahan hingga 10 meter,’’ kata Gatot, menambahkan.
 
Penyusutan lahan yang seharusnya dilepas itu merugikan karena uang hasil penjualan berkurang seiring dengan ukuran lahan yang sebelumnya telah ditetapkan. Mereka khawatir menyusutan lahan itu berimbas pada nilai ganti rugi yang ditetapkan negara masing-masing Rp 2.250.000 per meter persegi. ‘’Kalau tanah susut ganti rugi lebih kecil itu tak bisa digunakan untuk biaya relokasi,’’ kata Gatot menjelaskan.
 
Warga Kampung Sawojajar, Kelurahan Krobokan menempati tanah negara yang kemudian disertifikat dan dibebaskan untuk pembangunan. Rata-rata nilai kerugian penyusutan pengukuran lahan itu mencapai Rp 60 juta.
 
Tanah yang ditempati merupakan tanah negara yang kemudian disetujui oleh wakil presiden untuk diserahkan ke PT KAI.  Rata-rata pengguna lahan di Kampung Sawojajar merupakan warga kurang mampu yang berharap mendapatkan uang pengganti lebih untuk membeli lahan baru untuk hunian.
 
Asisten I Sekretaris Daerah Kota Semarang, Eko Cahyono sepakat dengan pengukuran ulang lahan yang hendak digunakan untuk pembangunan rel ganda itu. Ia berjanji pengukur an ulang lahan melibatkan badan pertanahan.
 
‘’Harapannya kalau sudah diurai di lapangan bisa lebih jelas,  mereka akan dapat uang penganti untuk hunian lebih layak,’’ kata Eko Cahyono.(MS-13