Wedang Ronde, Sajian Para Dewa yang Melegenda

PERAYAAN Tahun Baru Imlek 2569 tak bisa dilepaskan dari pernak-pernik serta panganan khas yang dijajakan masyarakat peranakan Tionghoa. Namun, tahukah Anda dari sekian banyak makanan asli khas China, wedang ronde merupakan yang paling populer di Indonesia sejak berabad-abad silam.

Wedang Ronde, sajian khas Tionghoa yang digemari masyarakat Indonesia. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Yongkie Tio, Sejarahwan di Kota Semarang bahkan mengungkapkan wedang ronde semula bernama Tangyuan. Semula wedang ronde dimanfaatkan oleh penduduk di Cina daratan sebagai sesaji para dewa.

Sebab, selama berabad-abad banyak warga Cina yang masih memegang mitos jika musim dingin menjadi sebuah kutukan dari para dewa.

“Karena orang Cina di negara asalnya sana paling takut dengan musim dingin. Maka saat salju turun, mereka berbondong-bondong menyembah para dewa di klenteng sembari membawa wedang ronde sebagai makanan sesajinya,” ujarnya.

Namun fakta menarik justru muncul tatkala para bangsawan Cina menjelajah sampai ke Indonesia. Yongkie memperkirakan orang Cina masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 400 Sebelum Masehi (SM).

Tak ayal, mereka juga memperkenalkan semua kebudayaan termasuk ciri khas masakannya kepada orang-orang pribumi.

Yang unik, lanjut Yongkie, ketika dibawa masuk Indonesia, wedang ronde justru paling digemari masyarakat lokal. Kondisinya berbanding terbalik dengan yang terjadi di negara asalnya mengingat makanan tersebut menjadi sesaji menyembah para dewa.

“Dalam sejarah Bangsa Cina, wedang ronde malah paling disukai orang Indonesia. Itu memang 100 persen dari Cina dan biasanya dipakai untuk sesaji para dewa,” bebernya.

Ia menyebut hal tersebut tak lepas dari proses alkulturasi budaya yang dilakukan Bangsa Cina setiap menjejakan kaki di sebuah negara. Di Pulau Jawa pun banyak orang Cina yang berbaur dengan orang pribumi sampai menjalin tali pernikahan.

“Ada satu kisah ketika Raja Mangkunegara yang dahulu sempat memiliki selir berdarah Cina. Inilah sebuah keberhasilan orang Cina saat dalam berbaur dengan penduduk lokal,” paparnya.

Sementara itu, Sri Waluyo, seorang pedagang wedang ronde di kawasan Simpang Lima mengaku dagangannya laris manis karena pembeli hanya cukup merogoh kocek Rp 7.000 per porsi.

“Ronde terbuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola, direbus, dan disajikan dengan kuah manis. Ukurannya bisa kecil atau besar, tergantung keinginan pembeli,” tukasnya. (far)