Zaman Makin Maju, Nasib Tukang Becak Kian Tak Menentu

CUACA yang cukup terik tak membuat Mat Karman beranjak dari becaknya. Saat ditemui metrosemarang.com, pada Rabu (28/2), lelaki berusia 54 tahun itu masih setia mangkal di atas jemabatan Jalan Wotgandul, kawasan Pecinan Semarang.

Sejumlah pengayuh becak saat mangkal di tepi Jalan Wotgandul, Pecinan Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Karman telah menggantungkan hidupnya di jalanan sejak puluhan tahun. “Saya sudah 28 tahun jadi tukang becak. Susah senang, meski penghasilan pas-pasan ya tetap dijalani saja,” kata warga asli Karang Agung Demak tersebut.

Semula, ia mangkal di ruas Jalan Mataram. Namun, banjir yang menggenangi jalan raya tersebut memaksanya pindah tempat ke Jalan Dr Cipto. “Pindah-pindah tempat mangkal. Karena sering kebanjiran. Sampai akhirnya di Jalan Wotgandul,” akunya.

Perkembangan zaman yang begitu pesat juga membuat nasibnya semakin terpuruk. “Kalau pas sepi, saya biasanya pulang desa, mencangkul sawah di rumah,” bebernya.

Penghasilannya kian tak menentu seiring banyaknya warga yang beralih naik kendaraan pribadi. Di samping itu, ia juga kalah saingan dengan para pengojek online yang mengandalkan sebuah gawai untuk menjaring penumpang.

Saat ditemui terpisah, Sukarni hanya termenung di beranda depan rumahnya. Bertempat di Kampung Madukoro III, RT 04/RW 1, Kelurahan Krobokan, hari-harinya dihabiskan dengan mengenang masa kejayaan suaminya sebagai salah satu pembuat becak termahsyur di Ibukota Jateng.

Dengan mengusung merek Dua Hati, Kardono, nama suaminya, kerap mendapat pesanan pembuatan becak dalam jumlah besar. Semula, harga jualnya Rp 3,5 juta. Namun lambat-laun naik jadi Rp 6 juta.

“Dulu banyak pesanannya. Sebulan bisa membuat empat becak. Tapi sekarang sudah tutup, tidak ada pesanan (pembuatan becak) lagi. Orang-orang pilih naik Go-Jek ketimbang becak,” katanya.

Sejarahwan Kota Semarang, Yongkie Tio menuturkan jika becak sejatinya merupakan tradisi alkulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang patut dilestarikan. Apalagi, sejarah perkembangan becak telah melekat pada hati masyarakat Indonesia.

Saat Soekarno berkuasa, kata Yongkie, becak menjadi favorit masyarakat sebagai transportasi murah meriah di Indonesia.

“Becak itu kan dari Cina. Nama awalnya texiau. Kemudian dikenalkan di Indonesia, bentuknya dimodifikasi roda tiga karena warga lokal terinspirasi sepeda buatan jaman Belanda,”.

Ia menjelaskan para tukang becak awalnya berasal dari warga peranakan Thionghoa. Mereka sering disebut thauke atau bos becak, karena bisa memproduksi becak sampai ratusan. “Bentuknya juga lebih kecil ketimbang sekarang. Yang unik lagi, ada pemandangan sawah di bagian slebornya. Itu daya tarik utama bagi wisatawan yang mampir Semarang,” ungkapnya.

Meski begitu, masa transisi menuju era Orde Baru telah mengubah semuanya. Melalui gerakan anti-China, pemerintahan Orde Baru merazia semua warga Thionghoa yang menjadi tukang becak. “Thauke becak hilang sejak 1965 silam, imbasnya banyak becak dirusak dan dibakar,” terangnya.

Tampilan becak pun berubah drastis. Dari semula dilengkapi slebor mblenduk, lalu diubah dengan bentuk roda sedikit menyamping. Pada pertengahan tahun 1980 silam, banyak becak diprotoli karena becak susah masuk pasar.

“Saya khawatir becak akan hilang dari peredaran jika tidak ada campur tangan dari pemerintah daerah,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.