Home > METRO BERITA > METRO KAMPUS > Zum, Anak Pencari Belut Lulus Cumlaude dari IAIN Walisongo

Zum, Anak Pencari Belut Lulus Cumlaude dari IAIN Walisongo

Zum bersama adik dan kedua orangtuanya (foto: Metro)
Zum bersama adik dan kedua orangtuanya (foto: Metro)

 

SEMARANG – Pasangan Siti Hartatik (42) dan Abdul Kamid (46) tidak menyangka akan sebahagia hari ini. Putrinya, Zumrotul Choiriyah (23) menjadi lulusan terbaik dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang. Zum, panggilan Zumrotul, berhasil meraih indeks prestasi 3,93 pada kelulusannya dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Ia diwisuda  hari ini (Rabu, 6/8) bersama 1.114 mahasiswa dari berbagai strata dan fakultas. “Saya ndak menyangka bisa seperti ini. Semua hanya kami jalani saja. Alhamdulillah, saya senang sekali,” kata Hartatik yang keseharian bekerja sebagai tukang masak di sebuah industri rumahan di Bojonegoro.

Zum lahir di Desa Bangilan Kecamatan Kapas, Bojonegoro Jawa Timur 11 November 1991. Keluarganya bukan keluarga mampu. Kesehariannya, Kamid bekerja sebagai pencari belut. Zum bisa kuliah di IAIN Walisongo Semarang dengan beasiswa Bidikmisi. Yakni beasiswa belajar penuh untuk siswa berprestasi dari kelaurga kurang mampu.

Di bidang akademis, prestasi Zum menonjol. Alumni Madrasah Aliyah Abu Darin Bojonegoro itu, sejak duduk di bangku MI (sederajad SD) sudah menorehkan prestasi. “Awalnya dari rekomendasi sekolah. Kemudian saya ikuti prosesnya dan dapat,” kata Zum di sela acara wisuda.

Setiap semester, Zum mendapat beasiswa Rp 6 juta. Sebanyak Rp 2,4 juta diantaranya tak diberikan dalam bentuk tunai, namun dialokasikan untuk biaya pendidikan. Sisanya, Rp 3,6 juta adalah untuk biaya hidup Zum di Semarang selama enam bulan. Tentu saja Zum harus hidup hemat dengan uang saku terbatas.

Zum menyiasatinya dengan tinggal di pesantren agar tak membayar sewa mahal. Sebulan, Zum cukup mengeluarkan uang Rp 75 ribu saja. Sekaligus disana Zum memperdalam ilmu agama, mengaji kitab, dan tahfid. Zum sudah hafal lima juz dalam Al-Quran.

Tinggallah Zum memikirkan biaya makan dan keperluan lain, termasuk keperluan kuliah dengan mengatur penggunaan uang sakunya dari beasiswa. Terkadang uangnya kurang, dan Zum terpaksa menelfon Hartatik. “Tapi kalau ditelfon dan minta uang, kebetulan pas ada. Saya memang menabung untuk keperluan Zum,” ungkap Hartatik yang ingin anaknya menjadi dosen.

Saat ini, Zum sudah dinyatakan diterima di jenjang magister Ilmu dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Walisongo Semarang. Selamat kepada Zumrotul Choiriyah. (MS-06)