1.000 Pelajar Semarang Jadi Duta Pengelolaan Sampah

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 1.000 anak SD, SMP dan SMA/SMK di Kota Semarang terpilih menjadi duta pengelolaan sampah. Mereka telah diberikan pembekalan dan pelatihan cara mengelola sampah. Diharapkan nantinya mereka menjadi agen perubahan minimal di lingkungan keluarganya untuk mengurangi dan memanfaatkan sampah.

Edukasi pengelolaan sampah bersama anak-anak sekolah siswa SD, SMP, SMA/SMK, Rabu (10/5). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

‘’Harapannya lebih jauh masyarakat akan ramai-ramai melakukan pengelolaan sampah. Sehingga upaya Indonesia bebas sampah tahun 2020 bisa tercapai,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Tengah, Sugeng Riyanto di balai kota Semarang pada acara Edukasi pengelolaan sampah bersama anak-anak sekolah siswa SD, SMP, SMA/SMK, Rabu (10/5).

Program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dengan tema gembira bersama kelola sampah menuju cara hidup sehat ini, merupakan yang ketiga dilakukan setelah sebelumnya di Jakarta dan Banjarmasin dan akan terus dilakukan di kota-kota lainnya.

Di era modern dengan penggunaan barang elektronika yang tak terelakan dalam kehidupan sehari-hari seperti penanak nasi, kipas angin, televisi dan lainnya, tanpa disadari akan menyebabkan banyaknya sampah elektronik yang membahayakan. Tiap hari jumlahnya akan terus meningkat dan membutuhkan tempat untuk menampungnya yang memadai.

‘’Maka perlu pengelolaan sampah yang bisa dilakukan hanya dengan mengurangi produksi sampah atau memanfaatkannya. Sampah organik seperti daun dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sedangkan sampah non organik seperti plastik sedotan bisa dibuat menjadi kerajinan tangan,’’ jelasnya.

Direktur pengelolaan sampah Kementerian Lingkungan Hidup R Sudirman mengatakan, acara ini kerjasama Kementerian dan Pemkot Semarang serta organisasi lainnya untuk mendorong perilaku baik bagi generasi muda. Anak-anak ini diharapkan dapat merubah pola pikirnya dan sekaligus cerdas dalam ikut serta mewujudkan Indonesia bebas sampah 2020.

Sebuah penelitian menyebutkan untuk merubah pola pikir atau kebiasaan masyarakat yang paling efektif adalah sasarannya kepada anak-anak. Anak-anak diarahkan untuk aktif mengelola sampah dari sumbernya yaitu keluarga masing-masing. Kemudian dikembangkan oleh pemkot hingga tingkat kelurahan dan kecamatan. (duh)

You might also like

Comments are closed.