13 Hutan Kota Semarang Tak Boleh Jadi Kawasan Pemukiman atau Industri

SEMARANG – Kota Semarang saat ini sudah memiliki 13 hutan kota sebagai paru-paru kota. Diharapkan keberadaan hutan kota ini dapat terus terjaga dan dilestarikan sehingga tidak dialihfungsikan menjadi tempat lainnya.

hutan kota semarang
Wali Kota Hendi didampingi pejabat dinas terkait meninjau pembangunan Pasar Semarangan di Hutan Kota Tinjomoyo, Selasa (6/3). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Gunawan Saptogiri mengatakan, pihaknya akan membuat regulasi yang menjaga hutan kota tetap lestari. Pihaknya tidak mengharapkan hutan kota beralih fungsi misalnya sebagai kawasan permukiman maupun industri.

‘’Kami akan menambah jumlah hutan kota sebagai bentuk komitmen mempertahankan dan melestarikan fungsi hutan sebagai paru-paru kota,’’ katanya, Minggu (15/4).

Adapun 13 hutan kota yang dimiliki saat ini di antaranya, di Tlogosari Kulon, Karangroto, Purwosari Mijen, Hutan Gunung Talang Bendanduwur Gajahmungkur, kelurahan Krobokan, Hutan wisata UPTD Dinas Wisata Tinjomoyo, lahan komplek kampus Unisula, Undip dan lainnya.

Semua hutan kota tersebut sudah masuk dalam Peraturan Walikota (Perwal) dan rencana jumlahnya akan terus ditambah. Penambahan hutan kota tidak harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang, institusi lainnya dapat berpartisipasi seperti contohnya perguruan tinggi.

‘’Seperti Kampus Unnes (Universitas Negeri Semarang) meskipun tidak masuk dalam Perwal, namun ikut melestarikan lingkungannya dengan penghijauan,’’ kata Gunawan. Dia menegaskan, hutan kota harus dilestarikan sebagaimana mestinya dan jangan dialihfungsikan karena perannya sebagai paru-paru kota akan menjadi hilang.

‘’Kami terus merawat setiap hutan kota. Kalau ada pohon-pohon yang sudah tua kami ganti, dan ditambah dengan tanaman baru. Sehingga kondisi udara di Semarang tetap terjaga kebersihannya,’’ tandasnya. (duh)

Comments are closed.