2 Pertanyaan tentang Mengembangkan Bakat

SAAT mencari bakat orang lain, saya tidak berdasar pada pertanyaan “dia bisa apa?”, melainkan, “Dia bisa mengembangkan apa?”.
Misalnya, mencari aktor. Saya menomorsatukan postur dan suara. Bukan pada pengalaman yang dia miliki.

Postur itu fisik, perawakan. Saya percaya kalau “watak” bisa dibentuk-ulang, tetapi fisik lebih sulit dibentuk-ulang, setidaknya, butuh waktu lebih lama. Pendidikan itu tentang pembentukan dan pengembangan karakter (watak).

Saya kesulitan bekerja dengan orang yang berprinsip bahwa watak itu semacam penyakit.

Mereka ini punya ungkapan, “watuk isa ditambani, nanging watak ora isa ditambani“, batuk (watuk) bisa disembuhkan tetapi watak (karakter) tidak bisa disembuhkan. Mereka ini sudah pesimis jika berhadapan dengan karakter dan moral. Mereka ini gampang menyerah kalau sudah ada penilaian bahwa si a jahat, si a tidak bisa diajak bekerja sama, dst. penilaian buruk, lebih diperhatikan, untuk dibuang. selamanya.

Orang bisa dibaca dari postur dan suaranya, bisa disukai (atau dibenci) dari postur dan suaranya. Harap diingat, di sini saya bicara tentang dunia acting. bukan pada semua bidang, bukan pada semua pekerjaan. Soal lain, pertimbangan bakatnya tentu lain.

open
Ilustrasi Foto: designbeep

Mengapa pencari bakat (termasuk guru), sering gagal menempa anak yang dianggap tidak berbakat?

Kegagalan orang mencari bakat orang lain untuk bekerja bersama, berawal dari penilaian-berlebihan terhadap sebuah penolakan. Pertimbangan orang tua dalam menilai bakat anaknya, bisa jadi berbeda dengan pertimbangan seorang guru.

Seorang calon aktor, yang sudah lama berlatih, bisa down ketika dia tidak dipakai. Penolaknya berkata, “Maaf, kami mencari yang berpengalaman.” atau “Maaf, kemampuan anda tidak relevan dengan apa yang kami butuhkan.” atau “Maaf, saya tidak berani mengambil keputusan ini.”.

Saya menyukai penolakan, asalkan terjelaskan. Lebih baik bilang, “Silakan berlatih lagi, agar bakatmu terasah” agar yang ditolak mengerti cara Anda menilai bakat, daripada menyatakan hal umum dan memakai penilaian umum tentang cara memperlakukan bakat. Itu menyakitkan.

Saya sering berselisih-paham tentang bakat seseorang dengan pengajar lain.

Saya lebih suka memberikan tes yang selalu berbeda, melakukan pengamatan tersendiri, tanpa sepengetahuan orang yang dianggap (tidak) berbakat ini.

Setiap individu itu unik. Saya selalu bertanya kepada diri-sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan bersama orang ini?”, bukan “Apa yang bisa dia lakukan sendirian?”.

Penilaian terhadap seseorang yang dianggap berbakat, sering berdasar pada “dia bisa apa”, bukan “dia akan berkembang sebesar apa, bersama saya”.

Saat Ranggawarsita tidak mau mengaji, gurunya mengajarinya ilmu kanuragan lebih dulu untuk menempa fisiknya, sampai Ranggawarsita “kalah” dan menyerahkan-diri, lalu gurunya menempanya secara khusus. Ranggawarsita mampu melampaui kawan-kawannya dalam hal mengaji, lebih pintar, lebih cemerlang. Dia hanya melewati tahapan yang berbeda dari kawan-kawannya yang lain.

Saat Kartini tidak mau mengaji ketika gurunya tidak bisa menjawab pertanyaannya, ayah Kartini tidak marah. kartini mendapat cerita tentang para senopati jawa, tentang peperangan dan kepahlawanan, sampai kelak dia dipertemukan pamannya dengan Kyai Saleh Darat. Kartini menjadi perempuan yang melampaui bakat kawan-kawan sebayanya. Awal usia 20, Kartini mengorganisasikan para pemuda Jepara mengembangkan seni kriya, membuat sekolah di Rembang, dan menggetarkan Belanda dengan gagasan-gagasannya,, tentang apa yang dicibir orang sekarang sebagai wilayah domestik perempuan.

Saat Will Hunting, tukang sapu jenius, bisa memecahkan persamaan matematika rumit di sebuah universitas, dosen penulis teka-teki itu menyerahkannya kepada seorang psikolog. Will mendapatkan cerita-cerita panjang tentang hidup, berbagi rasa, sampai akhirnya ketemu : apa yang membuat Will Hunting tidak mau sekolah. Saya selalu ingat adegan ketika Sang Psikolog memeluk Will Hunting sambil berkata, “Ini bukan salahmu.”

Setiap orang menghadapi “pintu tertutup” masing-masing. Terutama anak muda yang (semuanya) berbakat, di bidang masing-masing.

Ranggawarsita mau mengaji setelah menemukan ada ilmu yang lebih mengantarnya kepada kamanungsan sejati, melampaui ilmu kesaktian fisik, yaitu ilmu mengaji. Dia hanya memutar rute sampai menemukan jalan-tersingkat.

Kartini mau mengaji sungguh-sungguh, setelah pamannya mengajaknya menjelajah ke Demak, bertemu seorang alim bernama Kyai Saleh Darat. Selama “menunggu” perjalanan jauh itu, ayahnya mampu membuat Kartini melakukan hal lain, bersama orang lain.

Psikolog dalam cerita “Good Will Hunting” tahu, keputusan mau belajar itu hanya butuh waktu 10 detik, namun membuka kemauan itu butuh waktu lama.

“Pintu tertutup” itu akan terbuka. Mungkin butuh seorang teman, mungkin suatu waktu, mungkin literatur, mungkin teman,

Namun bagi seorang guru, termasuk pencari bakat, tidak ada kata “mungkin” bagi bakat seorang manusia. Semua orang bisa dia kembangkan. Tidak peduli seperti apa fisiknya, tidak peduli apa kata orang tentang bakat dia.

Seorang guru dan pencari bakat, selalu kembali kepada pertanyaan, “Dia bisa mengembangkan apa?” dan “Apa yang bisa saya lakukan bersama orang ini?”.

Di sekitar kita banyak orang berbakat, unik, jenius. Anda adalah teman mereka, guru mereka, atau pintu-tertutup yang harus bersedia membuka-diri agar dia segera melampaui orang lain.

Menjadi dirinya sendiri. Mengembangkan bakatnya sendiri. Tanpa sendirian.


Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Semarang dan Rembang

You might also like

Comments are closed.