21 Kades Ngaku Diciprati Uang dalam Kasus Suap Bupati Klaten

METROSEMARANG.COM – Sebanyak 21 kepala desa (kades) di Kabupaten Klaten dihadirkan oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang, Jumat (4/8). Mereka diminta untuk menjadi saksi atas kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Bupati nonaktif, Sri Hartini.

Sidang suap Bupati Klaten di Pengadilan Tipikor Semarang, Jumat (4/8). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Mereka mula-mula dihadirkan bergiliran dalam sidang tersebut. Ada sembilan saksi yang pertama kali bersaksi. Kemudian dilanjutkan saksi-saksi lainnya. Saksi yang dihadirkan dari Desa Jagalan, Jetis, Blimbing, Demak Ijon, Kanoman, Sumakaton,Gumul, Ngemplak, dan Kemampir.

Indri, seorang kades yang ikut bersaksi mengatakan dirinya mendapat kucuran dana pembangunan desa senilai Rp 100 juta. “Dana itu dipakai untuk pengerjaan proyek di dua proyek,” ungkapnya.

Ia menegaskan sama sekali tidak diberi tahu ihwal sumber dana tersebut. Pun demikian saat majelis hakim menanyakan hubungan kerja antara pemberi uang kepada dirinya.

“Saya belum ada hubungan apa-apa. Saya hanya disuruh buat proposalnya untuk pencairan dananya. Lalu saya disuruh menyetorkan uangnya,” katanya.

Dari hasil setor dana desa tersebut, uangnya dipotong sekitar 15 persen. “Saya kemudian ketemu dengan orang yang bernama Pak Bardi di rumah sakit. Sekitar Rp 12 Juta dikasihkan ke Pak Bardi,” ucapnya.

Sedangkan Kades Jagalan, Sudardiono, mengaku sempat dihubungi sopir anak Sri Hartini, yakni Winarno untuk berkumpul di rumah sang bupati.

Dalam pertemuan tersebut ia dijanjikan uang aspirasi sebagai tanda terima kasih atas pemenangan terdakwa saat Pilkada. “Masing-masing mendapat Rp 250 juta dan ada uang konpensasi 15 persen,” terangnya.

Kades Jetis, Syamsul Ali juga mendapatkan dana aspirasi Rp 145 juta. “Saya juga disuruh ngasih kompensasi 15 persen,” kata dia. (far)

You might also like

Comments are closed.