Cerita Pedang Al Ma’thur sebagai Mahar Pernikahan Putri Rasulullah

Replika pedang Al Ma'thur dipajang di Masjid Baiturrahman Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Replika pedang Al Ma’thur dipajang di Masjid Baiturrahman Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

 

METROSEMARANG.COM – Sebuah pedang sepanjang 120 centimeter menyedot ratusan pasang mata yang beribadah di Masjid Baiturrahman Semarang, Minggu (6/12) pagi. Usut punya usut, pedang bernama Al Ma’thur yang bertahtakan butiran batu mulia itu merupakan benda peninggalan Nabi Muhammad SAW yang dipajang di pelataran masjid.

Menurut riwayat pedang yang didapatkan di lokasi pameran diketahui, Muhammad pernah memberikan pedang Al Ma’thur sebagai mahar untuk pernikahan putrinya, Fatimah ketika menikah dengan Ali Bin Abi Thalib.

Adit Isra seorang konsultan benda peninggalan Nabi Muhammad lalu bercerita bahwa setelah menikahkan sang putri, pedang Al Ma’thur kemudian dibawa oleh Khalifah Usman Bin Affan untuk disimpan di Museum Top Khapi di Turki.

“Jadi ini adalah pedang kesayangan Rasulullah yang dijadikan mahar bagi putrinya saat ijab kobul dengan Ali Bin Abu Thalib,” ungkap Adit, sembari menunjukkan pedang Al Ma’thur kepada metrosemarang.com.

Setidaknya, kisah Nabi Muhammad yang merelakan pedang kesayangannya sebagai mahar sang putri bisa dijadikan suri tauladan bagi umat Muslim bagaimana setiap orangtua wajib memuliakan sebuah prosesi pernikahan hingga rela mengorbankan seluruh tenaganya.

Adit lantas menjelaskan bila pedang Al Ma’thur yang dipajang di Baiturrahman merupakan replika yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Menurutnya, replika pedang dibuat sangat detail dengan memperhatikan tiap lekuk mata pedang, pernak-pernik sangkur dan terbuat dari logam tembaga seberat 3 kilogram.

Pedang Al Ma’thur, kata Adit, juga punya riwayat panjang saat Muhammad berjuang menyiarkan agama Islam di Tanah Arab pada masa Jahiliah. Muhammad, suatu hari mengangkat pedang ini sebagai tanda mempersatukan suku Bani Kinanah, Bani Qurays, Bani Qais, Bani Ilan menjadi sebuah kelompok yang besar.

“Usia Rasulullah saat memakai pedang tersebut sekitar 15 tahun. Ini untuk mengangkat kesukuan dan mendamaikan orang-orang yang bertikai,” jelasnya.

Selain pedang Al Ma’thur, ia juga memajang 10 benda replika peninggalan Muhammad dan sahabat nabi di pelataran Masjid Baiturrahman mulai dari tongkat, busur panah, sandal yang dipakai Muhammad saat berhijrah dari Makkah ke Madinah hingga benda-benda lainnya.

Adit pun menambahkan, replika pedang Al Ma’thur ini sempat singgah di empat negara Filipina, Singapura, Brunei Darusallam, Thailand. Ia berharap, umat Muslim ke depan bisa mengenal benda peninggalan Nabi Muhammad secara langsung.

“Meski antusias warga untuk melihat pedang Muhammad dirasakan masih kurang, tapi kami yakin mampu menggaet sekitar 10 ribu pengunjung hingga pameran ini selesai pada 11 Desember 2015 nanti,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.