Kisah Garis Darah di Pedang Abu Bakar Ash Sidiq

Pedang Dhu Al Faqar milik Abu Bakar Ash Sidiq yang ikut dipamerkan di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Pedang Dhu Al Faqar milik Abu Bakar Ash Sidiq yang ikut dipamerkan di Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

 

METROSEMARANG.COM – Dalam pameran replika benda bersejarah peninggalan sahabat Nabi Muhammad SAW di pelataran Masjid Baiturrahman Semarang hari ini Minggu (6/12), pengunjung dibuat terkesima dengan literatur yang memuat jejak Abu Bakar Ash Sidiq saat menyiarkan Islam di Tanah Arab.

Pada literatur pameran memang disebutkan bahwa layaknya pejuang Muslim setiap kali bertempur di medan perang, Abu Bakar selalu membawa pedang kesayangannya. Pedang Abu Bakar yang dinamai Dhu Al Faqar ini diyakini punya daya magis tinggi karena terdapat garis darah pada bagian tengahnya.

Data literatur yang terpampang di pameran itu menginformasikan bila garis darah pada bagian tengah pedang Dhu Al Faqar berfungsi untuk mengalirkan darah musuh-musuhnya melalui jalur tersebut.

Di gagang pedangnya pun terdapat sepasang ukiran kepala burung yang memang pada masa Jahiliyah identik dengan patung burung. Tetapi, Abu Bakar dikisahkan tak pernah mengkultuskan patung burung itu dan hanya menggunakan pedang sebagaimana mestinya.

Nur Rahmad, seorang pengunjung pameran mengaku takjub dengan teknik pembuatan pedang milik Abu Bakar Ash Sidiq tersebut. “Berarti di zaman Nabi Muhammad peradaban manusia sudah sangat tinggi. Buktinya saja Khalifah Abu Bakar sudah bisa merancang teknik pembuatan pedang sebagus itu,” katanya, sambil membaca literatur di samping pedang Dhu Al Faqar.

Abu Bakar Ash Sidiq merupakan khalifatullah sekaligus sahabat nabi yang paling gigih menaklukan musuh-musuhnya demi menyebarluaskan ajaran Islam. Nama Abu Bakar sendiri adalah Utsman At Taimi tapi ia populer di kalangan sukunya dengan nama Abdullah Bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab in Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr al Qurasyi at Taimi.

Ummul Mukminin seorang aisyah radhiallahu anhu menuturkan karakter ayahnya tersebut. “Ia berkulit putih, kurus namun tipis di kedua pelipisnya, kecil pinggangnya wajahnya selalu berkeringat, hitam matanya, dahinya lebar serta selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai atau katam,” katanya.

Pedang milik Abu Bakar ini juga menjadi salah satu daya tarik pengunjung yang datang ke pameran Islamic Books Fair di Masjid Baiturrahman. Ajang pameran selama 4-11 Desember 2015 diinisiasi oleh lembaga konsultan benda peninggalan Nabi Muhammad di Indonesia dengan pihak konsulat Turki yang berkantor di Jakarta.

“Karena Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia maka kita mengenalkan langsung benda-benda peninggalan Rasulullah dan para sahabatnya, yang selama ini hanya diketahui dari buku bacaan,” tutur Adit Isra konsultan penyelenggara pameran pedang.

Selain Semarang, replika benda peninggalan Muhammad dan para sahabat juga dipamerkan di 38 kota besar mulai Bandung Yogyakarta, Riau, Padang, Samarinda, Kutai, Tenggarong, Bontang hingga Bangka Kepri.

“Kita pamerkan pedang sahabat nabi di kota-kota yang kultur Islamnya kuat,” ucapnya. (far)

You might also like

Comments are closed.