500 Penderita HIV/AIDS Baru, Pungli Parkir, dan Apel Kebangsaan 18 Miliar

Penggunaan dana sebesar itu dianggap berlebihan dan tidak proporsional

DINAS Kesehatan Kota Semarang mencatat setiap tahun rata-rata ada 500 pengidap baru HIV/AIDS. Sedangkan saat ini total penderita HIV/AIDS di Kota Atlas ini mencapai 5.228 jiwa. Kendati tidak seluruhnya merupakan warga Kota Semarang, namun mereka tinggal dan bekerja di Ibu Kota Jawa Tengah ini.

Menurut catatan Dinas Kesehatan tersebut, 58% HIV/AIDS adalah penderita laki-laki. Semarang utara merupakan wilayah penyebaran HIV/AIDS yang paling tinggi. Disusul Tembalang, lalu Semarang Barat. Yang terendah adalah wilayah Tugu.

Dinas Kesehatan Kota Semarang memiliki target 3 zero pada tahun 2030, berkaitan dengan HIV/AIDS. Tidak ada penderita baru, tidak ada lagi yang meninggal karena HIV/AIDS, juga tidak ada diskriminasi karena HIV/AIDS.

Karenanya dinas menyediakan berbagai layanan pemeriksaan, pengobatan dan pendampingan penderita, dari tingkat Puskesmas hingga rumah sakit. Layanan tersebut dapat diakses secara gratis, dengan jaminan kerahasiaan identitas pasien.

infografik: Daniel Bohang sumber: berota metrojateng.com

 

Bongkar Pungli Parkir

Dua juru parkir di kawasan relokasi Pasar Johar, Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ditangkap Tim Saber Pungli Kota Semarang. Keduanya diduga meminta pungutan yang besarannya tidak sesuai aturan tarif parkir, kepada pengemudi truk yang melakukan bongkar muatan di relokasi Pasar Johar.

Penangkapan ini adalah buntut dari penindakan terhadap 21 juru parkir, termasuk pengepulnya, di area Car Free Day Semarang pekan lalu. Polisi sedang menyelidiki kasus tersebut. Hingga saat ini, polisi belum mengungkap aliran uang parkir yang dipungut melebihi ketentuan tersebut.

 

Apel Kebangsaan 18 Miliar

apel kebangsaan
Kaka Slank, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin di panggung Apel Kebangsaan di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang.

Kegiatan apel kebangsaan yang akan dilaksanakan di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, menuai kritik. Bermula dari sokumen pengumuman lelang di laman http://lpse.jatengprov.go.id. Kegiatan dengan nama tender “Pengadaan Kegiatan Apel Kebangsaan Jawa Tengah Tahun 2019 Rampak Senandung Kebangsaan” dilelang dengan nilai Rp 18 miliar, dan dimenangkan oleh PT Potensindo Global yang beralamat di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Penggunaan dana sebesar itu dianggap berlebihan dan tidak proporsional. Para pengacara yang tergabung dalam organisasi Advokat Bela Keadilan (Abeka) menduga ada penyalahgunaan pemakaian anggaran tersebut. Mereka berencana melaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (*)

Comments are closed.