Kapolrestabes: Solidaritas untuk Muslim Rohingya Tidak Harus ke Borobudur

METROSEMARANG.COM – Polisi menegaskan rencana aksi damai solidaritas muslim Rohingya yang akan dilaksakan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, sudah dilarang. Candi Borobudur merupakan situs purbakala, cagar budaya, obyek wisata dan juga tempat untuk beribadah.

Para peserta Forkompinda menunjukkan kekompakan dan kerukunan bersama usai menggelar rapat di Balai Kota Semarang, Rabu (6/9). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Hal itu disampaikan Kapolrestabes Semarang, Kombes Abiyoso Seno Aji usai mengikuti acara Forkompinda yang diikuti perwakilan seluruh umat beragama di Balaikota Semarang, Rabu (6/9). Ia menegaskan, ada aturan undang-undang dimana kebebasan menyampaikan pendapat tidak boleh dilakukan di tempat-tempat seperti itu.

”Kami mengimbau kepada masyarakat Kota Semarang apapun agama yang dipeluk dan keyakinannya, bersama-sama menjaga kerukunan antar umat beragama. Dipelihara sehingga iklim Kota Semarang yang sudah sejuk tetap bisa dipertahankan,” tegasnya.

Menurutnya, jika memang ingin menyampaikan rasa empati atas peristiwa yang terjadi di Rohingya, tidak perlu harus berangkat ke Borobudur. Bisa dilaksanakan di masjid-masjid terdekat, disertai mungkin aksi penggalangan dana untuk disalurkan sesuai tempatnya.

Dari seluruh provinsi yang ada di Pulau Jawa mulai dari Banten, Metro Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta, dia mengatakan semua sepakat untuk melakukan penyekatan-penyekatan di pintu gerbang yang menghubungkan antar provinsi untuk menuju ke Borobudur.

Menurutnya, di Myanmar umat muslim memang minoritas, sehingga jangan gampang disimpulkan apa yang terjadi di negara itu merupakan konflik agama. Sebab keyakinan seperti itu akan menyebabkan gampang terjadi gesekan antar umat beragama di negara ini.

”Akhirnya akan mengembangkan sendiri-sendiri dengan keyakinan masing-masing. Akhirnya bisa terjadi juga di tempat kita gesekan antar umat bearagama, itu yang kita hindarkan dan dicegah. Yang terjadi di Myanmar jangan sampai berkembang terjadi di Indonesia,” terangnya.

Sedangkan di Indonesia umat Budha yang minoritas, sedangkan umat muslim mayoritas. Tapi mayoritas memiliki tanggungjawab untuk megamankan dan melindungi serta mengayomi yang minoritas, bukan justeru sebaliknya.

”Wujud empati tidak boleh diwujudkan yang justeru menyebabkan terjadi konflik  di sini,” tandasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.