Menyingkap Misteri Sumur Tua Kota Lama yang Tak Lekang Zaman

SINAR mentari yang mulai menghangat membuat aktivitas warga Semarang, mulai bergeliat, pada Kamis (14/9). Sembari membawa beberapa jerigen, kedua kaki Sarwidi pun mengayuh becak menyusuri kawasan Kota Lama, Jalan Letjen Suprapto, Semarang Utara.

Warga memanfaatkan sumur tua di Kota Lama sebagai sumber air bersih. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Kedua matanya tertuju pada sebuah sumur yang ada di kompleks Pasar Seni Padangsari. Lokasinya berjarak selemparan batu dari Taman Srigunting dan diapit lapak-lapak pedagang barang antik.

“Mau ambil air dulu buat mandi di rumah,” ujar warga Kebonharjo ini kepada metrosemarang.com, sembari menurunkan jerigen-jerigennya.

Tangannya tampak cekatan saat menimba air dalam sumur tersebut. Sepintas, keberadaan sumur kecil itu tak terlalu istimewa. Namun, keberadaan sumur itu jadi asa terakhir bagi warga setempat yang kekurangan pasokan air bersih.

“Saat kekeringan, mata air di dalam sumur ini tidak pernah surut. Airnya sangat melimpah walaupun diambil banyak orang,” akunya.

Ia saban hari mengambil air sumur itu tanpa dipungut sepersenpun. Setiap pagi, katanya banyak orang yang mengantre mengambil air sumur lantaran wilayah Semarang kini sedang dilanda kekeringan.

“Saya ngambil tiga jerigen. Airnya sangat jernih kok. Malahan petugas pemadam kebakaran sering kemari untuk mengambil air sumur sampai 13 tangki,” kata pria berkulit legam tersebut.

Dengan sumber mata air yang tak pernah surut, warga sejak lama percaya air sumurnya mampu menyembuhkan penyakit kulit. Tak sedikit yang mandi di lokasi tersebut.

Mujiono, warga lainnya juga mengamini ihwal keberadaan air sumur tua yang mampu mencukupi kebutuhan warga. Terutama saat Semarang memasuki puncak kemarau seperti saat ini.

Ia mengatakan airnya jernih dan aman untuk mandi serta mencuci baju. “Kawasan kota lama merujuk peta kuno ada ruang bawah tanah hingga tembus laut. Mungkin sumbernya dari jalur pipa-pipa kuno yang menghubungkan laut,” urainya.

Bagi pedagang barang antik Pasar Padangsari, sumur tua tersebut juga memberikan manfaat lebih, salah satunya sebagai fasilitas penunjang MCK.

Teguh Widodo, Ketua Pedagang Pasar Seni Padangsari menyebut bahwa sumur itu telah berusia ratusan tahun. Dari cerita mulut ke mulut, sumur tersebut merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

“Sumurnya sudah ada sejak lama. Saya belum lahir sudah ada sumur itu. Ini bisa memberi solusi bagi warga jika mengalami kekeringan panjang,” ungkap Teguh. (far)

You might also like

Comments are closed.