Meninggal Dunia, Mbah Sumaun Tinggalkan Warisan UU Kewarganegaraan

METROSEMARANG.COM – Satu persatu tokoh-tokoh sentral yang menjadi saksi bisu peristiwa berdarah pada 30 September 1965 silam, wafat. Sumaun Utomo, sebagai eks tahanan politik (tapol) Pulau Buru, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 94 tahun di Semarang.

Sumaun Utomo wafat di usia 94 tahun. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Yunantyo Adi Setyawan, Pembina Gusdurian Semarang mengatakan bahwa almarhum merupakan sosok yang gigih memperjuangkan hak-hak para eks tapol lainnya agar bisa mengikuti tahapan Pemilu lima tahunan.

Mbah Sumaun, begitulah almarhum semasa hidupnya akrab disapa, mampu memupus stigma negatif yang melekat pada diri rekan senasibnya untuk kemudian memiliki hak bersuara.

“Perjuangan beliau sampai akhir hayatnya saya rasa harus diingat oleh generasi muda, tentang bagaimana melakukan rekonsiliasi terhadap korban peristiwa 65, bertahan hidup sampai menghapus stigma negatif yang ditujukan bagi rekan senasibnya,” ungkap Yunantyo kepada metrosemarang.com, Kamis (14/9).

Ketika rezim Orde Baru (Orba) runtuh, Mbah Sumaun dikenal begitu akrab dengan Mantan Presiden KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Keduanya, menurut Yunantyo, jadi tokoh kunci dalam memperjuangkan hak kewarganegaraan bagi orang-orang minoritas macam etnis Tionghoa dan masih banyak lagi.

Bersama Gus Dur, Mbah Sumaun kerap melakukan pergerakan agar TAP MPRS No 26 Tahun 1966, dicabut. Kini, ketika raganya beristirahat dengan tenang, usahanya sedikit banyak telah berhasil.

Berkat usaha almarhum, UU Tentang Kewarganegaraan juga disahkan oleh Pemerintah Indonesia pada 2006 silam. Peraturan itu mengatur terkait sikap anti rasial, tidak lagi membedakan warna kulit, agama maupun golongan.

“Itulah warisan terbesar dari beliau. Membela kaum minoritas bersama Gus Dur, memberi pemahaman pentingnya memanusiakan sesama,” bebernya.

Almarhum terlahir dari keluarga petani muslim di Dusun Tlanak, Desa Kedungpring, Babat, Lamongan, Jatim. Untuk menggapai pendidikan yang tinggi, dia merantau ke Surabaya.

Almarhum sempat bergabung dinas militer. Kemudian hidup berpindah-pindah sesuai perjuangan bersenjata masa revolusi kemerdekaan. Di usianya 24 tahun, dia meraih pangkat mayor dan berdinas di Jakarta.

Nasibnya berubah saat ia berdinas militer. Dia disertir dan bergabung ke partai karena hasutan teman baiknya. Semula dia diposisikan sebagai ketua gerakan pemuda bersenjata. Namun oleh partai dipindahkan ke Jatim sebagai ketua Barisan Tani Indonesia.

Perjuangannya pada masa lampau sangat panjang. Sampai sebuah partai membebaskannya lalu mengirimnya ke Berlin untuk acara kongres partai komunis internasional.

Tetapi, karena statusnya diburu oleh pemerintah, maka dari Berlin kemudian dia dikirim ke Tiongkok untuk sekolah sampai 1957.

Saat peristiwa 1965 meletus, dia dibekuk tentara atas perintah langsung Jenderal Soeharto yang notabene mantan anak buahnya saat berpangkat Letda.

Dalam pembuangan di Nusakambangan dan Pulau Buru, komunikasi dengan keluarga terputus. Almarhum baru dibebaskan dari Pulau Buru pada 1979 silam.

Yunantyo menambahkan, almarhum selama ini tinggal di Jalan Taman Singoroto Nomor 13. Jenazah almarhum dimakamkan di Kedungmundu, pada Kamis pagi pukul 10.00 WIB. (far)

You might also like

Comments are closed.