Korban Kekerasan dan Bullying Bisa Lapor RDRM, Ini Fasilitasnya

METROSEMARANG.COM – Pemerintah Kota Semarang telah meluncurkan Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) sebagai tempat untuk perlindungan dan bantuan hukum korban kekerasan dan bullying, khususnya kepada perempuan dan anak-anak.

Pemkot Semarang melaunching Rumah Duta Revolusi Mental, Jumat (15/9). Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Di dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Pemkot Semarang menyediakan di RDRM fasilitas pendukung yang nyaman dan lengkap. Di antaranya seperti ruang konseling psikologi, ruang konseling anak, ruang konseling hukum, ruang IT, ruang meeting, dan dapur serta halaman yang cukup luas.

Selain itu menyediakan 2 konselor psikolog dengan 3 tenaga pembantu, serta satu konselor kukum dengan satu tenaga pembantu yang siap untuk melayani di RDRM ini.

”Di dalamnya ada fasilitas ruang konseling, ruang bermain bagi anak, dan fasilitas pendukung lainnya seperti mobil keliling yang siap menjemput korban kekerasan dan bullying,” kata Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu, Jumat (15/9).

Program-program yang bisa diakses masyarakat secara gratis di dalam RDRM yaitu restoratif justice program, moral and character education program, public mental health program, community development program, action research, dan human resource development program.

Menurut Ita, sapaan wakil wali kota, pengelolaan RDRM ini berada di bawah kewenangan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Semarang. Selain penanganan korban kekerasan dan bullying, juga dilakukan langkah preventif atau pencegahan.

”Upaya preventif atau pencegahan bullying terhadap anak di sekolah dengan memberikan pelathan kepada para Guru. Untuk pelaporan dapat melalui layanan telpon 024-76432642,” katanya.

Sementara itu Walikota Semarang Hendrar Prihadi berharap, dengan adanya RDRM, dan juga program Gebersepti (Gerakan Bersama Sekolah Semarang Peduli dan Tanggap Bullying) yang diluncurkan pada saat bersamaa, dapat memutus mata rantai bullying di lingkungan sekolah.

Serta memutus tindak kekerasan lainnya baik yang berbentuk fisik maupun kekerasan mental, khususnya terhadap anak dan perempuan di Kota Semarang.

”Kami tidak ingin ada lagi bullying dan kekerasan (pada perempuan dan anak) terjadi di Kota Semarang, apalagi sudah ada Rumah Duta Revolusi Mental. Saat ini ada 34 korban kekerasan dan bullying yang sudah ditangani di RDRM, yang kebanyakan korban dari kalangan Aparatur Sipil Negara,” katanya. (duh)

You might also like

Comments are closed.