Cegah Peredaran Pil PCC, Polisi Razia Sekolah di Semarang

METROSEMARANG.COM – Jajaran Polsek Semarang Timur menggelar razia di sejumlah sekolah untuk mencegah peredaran pil PCC (paracetamol, caffeine, dan carisoprodol), Sabtu (16/9). Meski tidak ditemukan obat-obatan berbahaya, polisi bakal melakukan kegiatan serupa secara rutin.

Polisi melakukan sosialisasi terkait bahaya PCC. Foto: istimewa

“Kami memang melakukan pencegahan terkait maraknya peredaran PCC ini. Kami juga tidak ingin kecolongan maka melakukannya secara mendadak tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” ujar Kapolsek Semarang Timur, Iptu Agil Widyas Sampurna.

Selain menggeledah barang bawaan, petugas juga menyuruh para siswa berbaris di depan kelas untuk dilakukan pemeriksaan. Bahkan penggeledahan dilakukan hingga ke sela-sela sepatu.

Agil juga memberikan imbauan kepada para siswa tentang bahaya PCC. Ia berjanji akan menindak tegas bagi para siswa yang mencoba menggunakan atau bahkan mengedarkan pil PCC itu.

“Ke depan pokoknya akan dilakukan rutin dan pastinya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” imbuh Agil.

Sementara Kepala Humas SMA Institut Indonesia, Bambang Dewantoro mengaku khawatir semenjak kabar beredarnya PCC akhir-akhir ini. Ia takut anak didiknya penasaran dan ingin mencoba pil tersebut.

“Kami sangat khawatir Mas, apalagi pil itu mudah didapat dan dengan harga yang sangat terjangkau bagi para pelajar. Oleh karena itu kami akan selalu berkoordinasi terus dengan pihak kepolisian untuk terus melakukan antisipasi dan meminimalisasi peredaran pil ini,” ujar Bambang.

Dalam razia ini petugas tidak menemukan adanya obat terlarang baik itu PCC atau yang lainnya. Kedepan razia ini akan terus diselenggarakan guna menjaga situasi ini tetap kondusif.

Seperti diketahui, kasus penyalahgunaan PCC mencuat di Sulawesi Tenggara. Sedikitnya 76 korban yang didominasi remaja harus dilarikan ke rumah sakit akibat overdosis obat yang biasa digunakan untuk penderita penyakit jantung itu.

PCC sempat beredar secara legal, namun telah ditarik pada tahun 2014. Pencabutan izin edar itu merujuk pada Undang-Undang Kesehatan No 39 Tahun 2009 terkait Obat.

Penggunaan PCC berlebihan bisa mengakibatkan halusinasi dan gangguan saraf otak. Tak heran, sejumlah korban di Sultra sampai menceburkan diri ke parit, bahkan laut. (fen)

You might also like

Comments are closed.