Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama, Dua Pemuda Afrika Sambangi Gereja Blenduk

METROSEMARANG.COM – Sejumlah anak muda lintas agama, pada hari ini, Minggu (17/9) pagi, memulai perjalanan dengan berkeliling menyusuri lorong-lorong jalanan Kota Lama Semarang.

Kegiatan Peace Train di Gereja Blenduk. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Rombongan anak muda tersebut berasal dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Baha’i, Sikh, Sapta Darma, dan Kapribaden. Tak hanya itu saja. Masih ada pula dua pemuda asal negara Lesotho dan Malawi Afrika yang turut hadir dalam acara tersebut. Mereka ingin mengenal kegiatan umat lintas agama dan mempelajari sikap toleransi warga lokal.

Kegiatan bertajuk Peace Train di Semarang merupakan hasil kerjasama antara banyak lembaga termasuk komunitas Persaudaraan Lintas Agama (Pelita). Setyawan Budy, Koordinator Pelita menyebut bila ada belasan anak muda yang antusias ikut kegiatan tersebut.

Di Minggu pagi, kata Wawan, sapaan akrabnya, para peserta diajak berkeliling Kota Lama, termasuk menyambangi GPIB Immanuel atau Gereja Blenduk serta Gereja Santo Yusuf Gedangan.

“Kita ajak dulu mereka jalan-jalan di kawasan Kota Lama sembari menunggu misa Gereja Blenduk usai. Setelah itu, mereka bisa masuk menikmati panorama interior Gereja Blenduk,” ungkap Wawan kepada metrosemarang.com.

Jelajah Peace Train masih akan berlanjut pada siang nanti. Wawan mengatakan para peserta akan menghadiri sesi upacara King Hoo Ping di Gedung Rasa Dharma yang ada di Pecinan bersama umat Konghucu.

Selain itu, peserta menyambangi Klenteng Tay Kak Sie kemudian bersilaturahmi ke Gereja Katolik Santo Yusuf Gedangan.

“Puncak kegiatannya adalah menyaksikan malam kesenian lintas agama di pelataram Gereja Katolik Santa Theresia Bongsari,” bebernya.

Ada ragam aktivitas dalam malam kesenian itu. Mulai Bengkel Sastra Taman Maluku, stand up comedy Agung “Pindang” Prasetyo mewakili OMK, “jembrengan batik” dari Komunitas Diajeng, penampilan rebana dari Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Gus Dur, tari Maumere dari kaum muda Gereja JAGI, tari Bali dari Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), permainan musik erhu tunggal dari Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi) Semarang.

“Keunikan keragaman budaya, identitas, suku bangsa, bahasa, keyakinan dan agama adalah rahmat dari Sang Pencipta Kehidupan. Walau masing-masing kita tentu memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda, kita dipanggil  terus bergandeng tangan, berpegang erat, sebagai sesama musafir kehidupan,” ujar Wawan.

Ia menambahkan acara ini diadakan dua hari sejak Sabtu kemarin. Untuk yang kemarin sudah mengunjungi Ahmadiyah, Vihara Tanah Putih, beberapa gereja dan bermalam di eLSa. (far)

You might also like

Comments are closed.