Pasar Barang Antik Kota Lama jadi Buruan Kolektor Eropa

METROSEMARANG.COM – Tak ada salahnya jika julukan Little Netherland disematkan pada kawasan Kota Lama, Semarang. Betapa tidak, di balik gedung-gedung tua yang menjulang tinggi, juga masih tersimpan sejumlah spot menarik yang patut dikunjungi.

Para Pembeli tengah menawar harga di salah satu pedagang Pasar Padangrani. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Salah satunya, Pasar Seni Padangrani yang terletak di simpul simpang empat Jalan Letjen Suprapto.

Di lokasi tersebut, terdapat setidaknya 40 pedagang yang saban harinya menjual ragam barang antik. Menurut Teguh Gunawan, Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Seni (Padangrani), ada ribuan jenis barang antik yang kerap laris manis diserbu para pembeli.

“Di sini ada penjual mata uang kuno, kain jarik kuno, perabotan rumah tangga, keris, ragam mebel ukiran tempo dulu, patung, sampai souvenir-souvenir,” ungkap Teguh kepada metrosemarang.com, Senin (18/9).

Ia mengatakan Pasar Seni Padangrani sudah eksis sejak 2012 silam. Selama ini, banyak turis dari dataran biru Eropa, Jepang, Australia, Amerika Serikat hingga Timor Leste yang kerap berburu benda-benda antik di pasar tersebut.

Harganya pun bervariasi. Mulai kisaran Rp 10 ribu sampai jutaan rupiah. “Ini saya punya helm peninggalan pertempuran lima hari Semarang yang harganya Rp 500 ribu,” katanya.

Kunjungan wisatawan di Pasar Padangrani, katanya paling ramai Jumat sampai Minggu. Saban hari buka mulai 08.00-23.00 WIB. Biasanya di belakang Taman Srigunting terdapat suguhan panggung hiburan dari seniman beberapa daerah.

Karenanya, ia berharap bila Pasar Padangrani tetap dipertahankan oleh Pemerintah Kota Semarang sebagai destinasi pendukung yang ada di Kota Lama.

“Sebab belakangan ini ada wacana untuk menggusur pasar ini. Kan sayang sekali kalau dihilangkan. Kita sejak sudah punya pasar barang antik dan pamornya sejajar dengan Solo maupun Yogyakarta,” tukas Langgeng, Pembantu Umum Padangrani. (far)

You might also like

Comments are closed.