Kaesang dan Erik Soekamti Berikan Spirit Entrepreneurship bagi Mahasiswa USM

METROSEMARANG.COM – Fakultas Ekonomi Universitas Semarang (USM) kedatangan tamu istimewa tatkala menggelar seminar nasional bertajuk ‘Ketika Ekonomi Dalam Genggaman Digital’ pada Senin (18/9).

Kaesang dan Erik Soekamti menjadi pembicara tamu di USM. Foto: istimewa

Bertempat di Aula Fakultas Ekonomi, ribuan mahasiswa larut dalam paparan bisnis yang disampaikan dua narasumber idolanya. Keduanya yaitu Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Indonesia, Joko Widodo serta Erix Soekamti sebagai vokalis grup pop punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti.

Dengan dipandu seorang moderator, baik Kaesang maupun Erix tampil bergiliran diatas panggung. Keduanya sangat menyita perhatian mahasiswa yang hadir. Ia tampil sangat ramah saat berdialog dengan mahasiswa USM.

Kaesang sendiri mengaku ingin anak muda lainnya meniru jejaknya menjadi seorang wirausaha muda yang tangguh. Sebab, menurutnya jadi wirausaha sangat asyik dan tak perlu lagi meminta uang saku kepada orangtua.

“Yang penting mau kerja dan mau bergerak saja. Jangan mau nunggu-nunggu di rumah. Enggak akan berkembang nanti. Satu lagi jangan gampang ngeluh,” kata Kaesang saat berbagi pengalaman dihadapan para mahasiswa. Menurutnya menjadi seorang enterprenuer juga butuh daya juang yang tinggi.

Kaesang mengatakan roda bisnisnya selama ini merupakan hasil gabungan antara modal cekak dengan kekuatan teknologi digital.

Kaos kecebong, begitulah Kaesang memperkenalkan produk clothingnya kepada publik. Ia kini masih terus sibuk mengembangkan bisnis kaos kecebong dengan merek Sang Javas. Meski baru diluncurkan 27 Agustus 2017 kemarin, tetapi ia mengatakan kaosnya sudah laris manis diborong pembeli.

“Sudah laku hampir 2.000 buah. Dalam waktu dekat, saya akan membuat satu desain lagi yang tentunya khusus anak muda,” akunya.

Merek Sang Javas baginya sangat berbau keberuntungan. Sang Javas diambil dari gabungan namanya dengan nama Kota Solo sebagai daerah kelahirannya.

“Sang nama saya sendiri. Sedangkan Javas mengusung filosofi jualannya paling cepat dan paling laku atau bisa dijabarkan Jawa at Solo,” kata pria lulusan Anglo-Chinese School Singapura tersebut.

Ia pun menegaskan kaos kecebong telah dirintis tanpa campur tangan sang ayah. Awal-awal berjualan, Kaesang sempat kebingungan terutama saat mencari modal. Namun untungnya, ia dan teman-temannya bisa saling membantu.

“Membuka usaha sendiri itu pusing, termasuk saya. Tapi nantinya pasti dinikmati juga. Semuanya benar-benar dari nol. Saya modali sendiri sampai kaos saya laku terjual, saya bisa beli handphone dan dapat penghasilan sendiri tanpa meminta uang saku dari orangtua,” tambahnya.

Inovasi jadi strategi ampuh untuk memenangkan persaingan bisnis clothing yang kian ketat. Dengan pemilihan warna yang tepat ditambah pangsa pasar yang jelas, membuat bisnisnya bisa bersaing di pasaran.

Kaos kreasinya pun menyasar segmen anak muda usia 18-35 tahun. “Banyak riset-riset yang saya lakukan agar dirasa pas cocok buat mereka,” bebernya.

Lain Kaesang, lain pula Erix Soekamti. Melalui Does University, Erix membuka sekolah animasi bagi anak muda tanpa dipungut biaya sepersenpun alias gratis.

Ia merasa sayang jika Indonesia yang kaya akan potensi kreatif pada diri anak muda terbuang sia-sia.

“Kita gratiskan semuanya biar mereka leluasa berkreasi sesuai imajinasinya. Kan eman-eman, Mas, banyak anak muda yang nganggur. Lebih baik kan dikaryakan di dunia animasi. Toh mereka juga generasi penerus bangsa,” cetusnya. (far)

You might also like

Comments are closed.