Digitalisasi Pelayanan, Okupansi Trans Semarang Capai 25.000 Orang per Hari

METROSEMARANG.COM – Dinas Perhubungan Kota Semarang menyebutkan okupansi penumpang Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang setiap harinya mencapai 25.000 orang. Hal ini tidak lepas dari upaya peningkatan pelayanan yang terus dilalukannya termasuk dengan pemanfaatan teknologi.

Okupansi penumpang BRT mencapai 25.000 per hari. Foto: metrosemarang.com

Plt Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan mengatakan, pihaknya selalu berupaya membuat inovasi-inovasi baru terkait sistem pelayanan Trans Semarang. Terutama memanfaatkan teknologi untuk mengimbangi perkembangan zaman dalam pelayanan.

Di antara inovasi sistem pelayanan yang telah dilakukannya adalah penerapan tiket elektronik (ticketing), pemasangan GPS, pemasangan papan trayek digital (LED trayek), dan lainnya. Inovasi-inovasi tersebut membuat pelayanan semakin meningkat dan jumlah penumpang semakin banyak.

‘’Di tahun 2017 ini, kami juga punya 116 unit bus yang melayani rute 6 koridor dan April 2018 nanti akan tambah satu koridor lagi dengan bus sejumlah 15 unit. Ada 633 orang karyawan yang bahu membahu menjadi bagian dari sistem pelayanan Trans Semarang,’’ katanya, Selasa (19/9).

Menurutnya, saat ini pada tanggal 18 September kemarin tepat delapan tahun Trans Semarang melayani warga Kota Semarang. Berbagai dinamika dan permasalahan transportasi sudah dialami, dan menjadikan Trans Semarang sebagai sebuah solusi transportasi perkotaan.

Dijelaskan, untuk inovasi penerapan ticketing yang dilakukannya, saat ini sudah diterapkan di semua armada bus dan shelter tertentu. Dengan adanya sistem tiket elektronik dapat meminimalisir kemungkinan-kemungkinan jika ada oknum petugas Trans Semarang yang curang.

‘’Imbasnya pendapatan kami perlahan lahan mulai naik, dengan rata-rata per hari okupansi penumpang mencapai 25.000 orang. Dengan system ini kami bisa pantau secara real time pendapatan kami. Bahkan bisa kami breakdown lagi pendapatan koridor mana yang terbanyak atau terendah, bisa juga kami lacak petugas tiket mana yang pendapatanya paling tinggi dibandingkan petugas tiket yang lain,’’ terangnya.

Sedangkan inovasi pemasangan GPS yaitu dipasang di alat ticketing. Jadi ticketing, jelasnya, selain sebagai alat transaksi juga bisa sebagai alat absensi karyawan dan juga GPS. Sehingga pihaknya bisa memantau secara persis posisi armada ada dimana, jalan dengan kecepatan berapa, dan petugas tiket yang di atas armada siapa.

‘’Hal ini kami maksudkan untuk memantau bahwa armada tersebut sudah jalan sesuai dengan rute koridornya, jalan dengan kecepatan sesuai SOP nya, dan jika ada complain atau kejadian tak terduga dengan armada kami bisa dengan cepat melacak untuk klarifikasi kepada petugas tiket atau driver,’’ katanya.

‘’Kami ada CC room untuk memantau segala aktifitas seluruh armada dan karyawan kami. Bahkan masyarakat umum juga kami persilahkan jika akan memantau bus kami, silakan ke alamat www.transsemarang.semarangkota.go.id,’’ imbuhnya.

Sementara inovasi pemasangan LED trayek, di awal tahun ini seluruh pengusaha yang tergabung dalam konsorsium Trans Semarang sudah diminta untuk melengkapi busnya dengan papan trayek digital, bukan lagi manual ataupun stiker.

Diharapkan dengan papan trayek digital akan lebih mudah terlihat dan lebih menarik dipandang mata dibandingkan dengan papan trayek yang masih manual. Selain itu seluruh bus telah diminta harus dilengkapi dengan suara sebagai pertanda jika bus akan mendekati atau meninggalkan shelter.

‘’Masih banyak hal yang menjadi impian kami untuk mendigitalisasi seluruh sistem pelayanan. Pada tanggal 27 September nanti, kami juga akan melaunching kerjasama dengan moovit Indonesia terkait aplikasi transportasi terbesar di dunia itu bisa digunakan untuk tracking bus Trans Semarang,’’ tandasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.