Warga Rembang Tetap Inginkan Pabrik Semen Kokoh Berdiri di Kaki Kendeng

METROSEMARANG.COM – Dwi Joko Supriyanto menghela napas dalam-dalam tatkala ditemui di Desa Tegaldowo Rembang, Kamis (21/9). Pandangan matanya menatap jauh pada deretan bukit Pegunungan Kendeng yang ada di depannya.

Pembangunan pabrik semen di Rembang mendapat dukungan dari warga di kaki Kendeng. Foto: metrosemarang.com/dok

Ia mengaku Pegunungan Kendeng jadi gantungan hidupnya selama ini. Mayoritas warga desanya masih menaruh harapan besar agar pabrik PT Semen Indonesia tetap bercokol di lokasi tersebut.

“Di Tegaldowo ini tidak ada aktivitas yang mencolok. Semuanya bekerja seperti biasanya. Warga tidak peduli lagi dengan upaya orang-orang yang menolak pabrik semen,” kata Dwi.

Ia pun menegaskan bahwa pabrik semen selama ini belum melakukan penambangan sama sekali. Ia menyebut apa yang dilakukan pengelola pabrik selama ini tak lebih dari memanaskan mesin pabrik agar tidak berkarat.

“Melalui kerjasama dengan tambang rakyat, pabrik semen mengambil bahan baku untuk memanaskan mesinnya saja. Jadi belum ada yang menambang sama sekali,” tuturnya.

Agar konflik pabrik semen tak berlarut-larut, ia pun meminta kepada pemerintah untuk segera meresmikan operasional pabrik semen. Musababnya, banyak manfaat yang bisa menguntungkan warga desanya.

“Kami bisa berwirausaha, bekerja di pabrik semen maupun usaha lainnya. Yang jelas dampaknya sangat baik bagi kami,” jelasnya.

Senada juga diungkapkan Triningsih, seorang perempuan warga Tegaldowo lainnya. Ia meyakini pabrik semen yang notabene sebagai perusahaan BUMN tak mungkin menyengsarakan rakyat Rembang.

“Enggak mungkin negara mau menyengsarakan rakyatnya sendiri. Apalagi Semen Indonesia kan bagian dari BUMN. Makanya kita selama ini menerima banyak manfaatnya. Sampai-sampai kita dibuatkan PAUD,” ungkapnya.

“Ini penting untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat yang sangat rendah. Kebanyakan di sini hanya lulusan SMP,” tambahnya.

Suparno Kusno, seorang aktivis LSM Semut Abang Rembang pun ikut menyuarakan nuraninya terkait konflik yang berlarut-larut di lereng Kendeng.

Ia memperkirakan jumlah warga penolak pabrik semen kini berangsur surut lantaran masyarakat belakangan ini mulai sadar akan pentingnya keberadaan pabrik semen.

Jika tahun 2012 silam masih terdapat ratusan orang yang menolak pabrik semen. Kini jumlahnya berkurang drastis tinggal 48 orang.

“Karena bantuan CSR dan program-program Semen Indonesia itu nyata dan tidak omong kosong. CSR diberikan tidak hanya warga Ring 1 pabrik semen melainkan sampai kawasan Ring 3. Ada bedah rumah, perbiakan balai desa hingga bantuan lainnya,” beber Kusno.

Menurutnya pabrik semen kini juga mentaati aturan pemerintah. Ia berharap bersamaan dengan pengumuman KLHS yang baru, pemerintah juga didorong mengeluarkan izin operasional pabrik Semen Indonesia di Rembang. Izin diterbitkan sebagai acuan tata ruang tata wilayah. (far)

You might also like

Comments are closed.