Polda Jateng Amankan Penyebar Ujaran Kebencian Berbau SARA

METROSEMARANG.COM – Jajaran Subdit II Cybercrime dan Ekonomi Khusus Ditreskrimsus Polda Jateng mengamankan Slamet Widodo (29) atas sangkaan ujaran kebencian melalui media sosial. Tersangka ditangkap setelah membagikan beberapa status pada akun Facebooknya yang menyangkut unsur sara dan ujaran kebencian.

Polisi memerlihatkan postingan Slamet Widodo yang berisi ujaran kebencian. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Kasubdit II Cybercrime dan Eksus Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Teddy Fanani mengatakan tersangka melakukan itu atas dasar kemauannya sendiri. Warga Cangkiran itu telah memposting hal serupa sebanyak enam kali dari bulan Juli 2016 hingga Agustus 2017.

“Dengan cara yaitu memposting melakukan penghinaan, ujaran kebencian, dan mengarah ke konten SARA dan sudah dilakukan sekitar satu tahun,” ujar Tedy.

Tedy juga mengatakan, kasus tersebut merupakan informasi yang dilimpahkan oleh Unit Cyber Bareskrim Polri. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan operasi cyber dan menemukan barang bukti beberapa postingan ujaran kebencian.

Tersangka Slamet memposting ujaran kebencian tersebut menggunakan akun miliknya dengan menggunakan nama Facebook Rio Wibowo.

“Setelah itu kami mendapatkan akunnya. Kemudian kita menyamar sebagai seorang wanita bernama Dea dan akhirnya melakukan chatting di WA (WhatsApp) sehingga tersangka tertarik untuk bertemu,” imbuh Teddy.

Kemudian, lanjut Teddy, berawal dari obrolan itu pihaknya kemudian bertemu dengan Slamet. Pertemuan dilakukan pada Selasa (19/9) lalu di salah satu tempat di Semarang dan sekaligus melakukan penangkapan.

Selain itu petugas juga mengamankan barang bukti berupa hasil screenshoot beberapa postingan di akun Facebook milik Slamet yang berisi ujuran kebencian, satu buah Handphone, dan KTP.

Kini petugas masih terus mengembangkan kasus tersebut. Teddy mengatakan kasus ini tidak ada kaitannya dengan Saracen ataupun kelompok yang mempengaruhinya untuk memposting ujaran kebencian. Dari keterangan sementara, tersangka melakukan tindakan tersebut atas keinginannya sendiri.

“Tersangka dijerat dengan Pasal 45 A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 8 Tahun 2011 serta perubahannya pasal UU No 19 tahun 2016 tentang UU ITE, ia diancam hukuman maksimal 6 tahun penjara,” pungkas Teddy. (fen)

You might also like

Comments are closed.