32 Daerah Darurat Kekeringan, Ini Wilayah dengan Dampak Terparah

METROSEMARANG.COM – Musim kemarau berkepanjangan membuat sebanyak 32 kabupaten/kota di Jawa Tengah telah berstatus darurat kekeringan hingga akhir Oktober nanti. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebut bencana kekeringan mulai terdeteksi di sejumlah daerah sejak 15 Agustus kemarin dan diperkirakan bakal merembet hingga 31 Oktober nanti.

Ilustrasi. Warga mengantre bantuan air bersih. Sebanyak 32 kabupaten/kota di Jawa Tengah berstatus darurat kekeringan. Foto: metrosemarang.com/dok

“Kita sudah siapkan perencanaannya sejak Juni. Sehingga sekarang semua stand by bantuan droping air bersih,” kata Ganjar, Jumat (22/9).

Menurut Ganjar bencana kekeringan paling parah telah melanda Kabupaten Blora yang berada di ujung timur Jateng serta Kabupaten Wonogiri yang berbatasan dengan Ponorogo Jatim.

Di dua lokasi tersebut, pasokan air semakin menipis seiring minimnya curah hujan yang mengguyur Jateng belakangan ini.

Lebih lanjut, Ganjar menegaskan sudah berupaya ekstra keras untuk mengantisipasi dampak kekeringan agar tidak meluas. Upayanya dengan menyiagakan droping air bersih di daerah endemik kekeringan.

Untuk jangka panjang, ia telah menginstruksikan kepada jajarannya guna mengkonservasi sumber-sumber air dan membangun waduk-waduk kecil di daerah Jateng yang rawan kekeringan. “Karena daerah-daerah tertentu memang langganan kekeringan, kita siapkan,” tambahnya.

Lebih jauh lagi, ia memaparkan bahwa pihaknya tetap melakukan penyambungan pipa-pipa air bersih dan sumur-sumur darurat di tiap daerah rawan kekeringan.

Walau demikian, ia menyebut sejauh ini wilayahnya tak bisa terbebas dari kekeringan. Sebab, warga yang tinggal di dataran tinggi dan daerah kering tidak bisa dipaksa mengungsi.

“Caranya hanya memfasilitasi saluran air ke arah sana,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.