Nobar Film G30S Dianggap Timbulkan Kebencian

METROSEMARANG.COM – Pemutaran ulang film penumpasan Gerakan 30 September (G30S) PKI yang marak diputar di sejumlah daerah memicu reaksi dari kalangan nahdliyin. Pasalnya, sejumlah pengurus Nahdlatul Ulama (NU) menganggap bila adanya pemutaram film tersebut justru menimbulkan rasa kebencian yang mendalam pada generasi anak muda.

Mohammad Nurruzaman
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Komandan Densus 99 Banser-Ansor, Mohammad Nurruzaman menegaskan gerakan komunisme sudah lenyap dari Bumi Nusantara.

Sehingga, ia beranggapan bahwa jika masih ada kelompok yang menghembuskan isu tersebut maka tak lebih jadi komoditas politik belaka.

“Mana ancamannya (paham komunis). Lha wong mereka sudah bubar semua kok. Isu PKI itu selalu jadi isu politik bukan hanya tiap bulan tapi hampir setiap tahun tiap 30 september,” ungkapnya, usai ikut diskusi bertemakan Menjaga Pancasila di Hotel Quest Semarang, Sabtu (23/9).

Menurutnya proses rekonsiliasi antar korban dan pelaku tragedi G30S sudah  selesai. Warga Nahdliyin telah melupakan kasus berdarah yang merenggut jutaan nyawa rakyat Indonesia.

“Jika ingin rekonsiliasi maka lupakanlah masa lalu. Saya yakin di tahun 2018 jauh lebih parah dari sekarang. Karena bisa dilihat kelompok-kelompok yang menghembuskan isu PKI. Kelompok ini menganggap PKI isu seksi karena PKI tidak beragama. Jadi komoditas politik yang dimainkan kelompok Islam radikal,” bebernya.

Hal tersebut juga berkaitan dengan pemutaran film G30S. Ia menegaskan Ansor tidak akan mau memutar film kontroversial tersebut.

“Banyak sekali yang mengajak tapi kami tidak akan memutar film itu di kalangan sendiri. Film G30S PKI malah menimbulkan kebencian,” tandasnya. (far)

You might also like

Comments are closed.