Akpol Sebut Calon Praja IPDN yang Tewas Mengidap Asma

METROSEMARANG.COM – Otoritas Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang menyatakan Dea Rahma Amanda, seorang calon praja putri Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang tewas di Lapangan Resimen, sejak lama mengidap penyakit asma.

Gubernur Akpol, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat berada di RS Bhayangkara. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Itu jadi petunjuk awal. Apalagi almarhumah tensi darahnya juga naik sampai 130. Cukup tinggi lho untuk ukuran remaja. Dan orangtuanya punya riwayat jantung,” ungkap Gubernur Akpol, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Senin (2/10).

Ia bahkan mendapati Dea sempat mengeluh asma saat menjalani pemeriksaan kesehatan dalam rangka seleksi calon praja IPDN tahun angkatan 2016/2017.

Berawal dari riwayat sakit itulah, Rycko menyatakan telah mengonfirmasi catatan medis yang dimiliki pihak IPDN. Apalagi, soal kematian Dea dirinya tak mau tak mau disalahkan begitu saja.

“Ya kita ingin tahu rekam medisnya dong sambil menunggu autopsi fisik luar dan dalam dilakukan oleh tim medis Dokpol Polda Jateng,” bebernya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dea menghembuskan napas terakhirnya saat dilarikan menuju RS Bhayangkara, pada Minggu pagi (1/10) kemarin. Ia meninggal pukul 08.15 WIB. Dea merupakan calon praja dari kontingen Lampung yang menjalani latihan dasar (laksar) di Akpol selama sebulan penuh.

Saat kejadian, Dea bahkan ikut salat berjamaah dan pengajian bareng rekan seangkatannya, pukul 04:00 WIB. Kemudian dilanjutkan makan bersama dan kegiatan fisik di Lapangan Resimen. Saat berbaris di lapangan, dia jatuh dan tidak sadarkan diri.

Rycko pun menambahkan bahwa pelaksanaan tes kesehatan calon praja selama ini berada di tangan IPDN. Akpol, menurutnya cuma berwenang menggelar latihan fisik sesuai kerjasama dengan IPDN.

Gubernur IPDN, Ermaya Suradinata memgklaim pelaksanaan latihan fisik di Akpol sudah sesuai prosedur. Ia meminta agar kematian Dea jangan dikaitkan dengaj kasus kekerasan lainnya.

“Itu murni musibah, kita berdukacita. Jenazah almarhumah Senin pagi pukul 04.00 WIB langsung dibawa ke Lampung oleh orangtuanya,” tukasnya.

Sementara, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Comdro Kirono memastikan penyebab kematian Dea Rahma Amanda bukan karena kekerasan fisik. Ia mengatakan tidak ada bekas kekerasan fisik pada tubuh Dea.

“Kalau (pemeriksaan) dalam itu dari kedokteran ya, tapi kalau fisik luar, kemudiam dari saksi saksi semua, aktivitas kegiatan dari bangun pagi keterangan temen-temennya satu barak tidak ada kekerasan,” ujar Condro.

Condro juga mengatakan, pihak keluarga tidak berkenan untuk dilakukan autopsi. “Oleh karenanya keluarga sudah menerima, kita doakan saja semoga khusnul khotimah,” pungkasnya. (far/fen)

You might also like

Comments are closed.