Tingkatkan Daya Saing, Batik Semarangan Didorong ‘Go Digital’

METROSEMARANG.COM – Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang Agus Riyanto Slamet mengajak mastah-mastah Internet Marketing untuk ikut memasarkan dan menjual batik Semarangan melalui pasar digital.
Di tengah tekanan global Batik Semarangan perlu menjadi perhatian agar terus lestari.

Pengusaha Batik Semarangan belum merasakan usaha maksimal pemerintah untuk mempromosikan produk mereka. Foto: metrosemarang.com/dok

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan hari batik pada tanggal 2 Oktober 2017 lalu. Agus mengungkapkan pasar digital cukup maju pesat,  namun sepertinya produk batik belum cukup banyak. Agus mengajak anak-anak muda para marketer di dunia online untuk ikut memasarkan batik.

“Ini masanya pasar digital, saya ajak ini para marketer, mastah-mastah berjualan batik semarangan, saya lihat masih jarang yang jual batik, saya tantang kehebatan internet marketingnya untuk melestarikan budaya bangsa, ” ungkap politisi asal PKS Semarang, Kamis (5/10).

Pemasaran batik menurut Agus perlu ada trobosan baru menyesuaikan perkembangan zaman dan penjualan online dilihat punya prospek bagus.  Karena penjualan online sangat tumbuh pesat. Untuk itu Agus juga mengingatkan perlunya perhatian pemerintah.

“Sepertinya memang cara memasarkan batik Semarangan juga perlu ada perkembangan, selain jualan off line,  pemasar batik juga perlu dikenalkan dengan pemasaran online,” terangnya.

Selain itu, Agus menekankan, batik perlu dilindungi agar tidak menjadi produk langka. Agus mengungkapkan bentuk perlindungan terhadap perajin batik ini mungkin bisa diwujudkan dalam bentu Perda Batik.

“Batik harus dilindungi karena warisan budaya, dari sisi produksi bahkan sampai pada pemasaran. Batik Semarangan perlu diberikan kemudahan-kemudahan agar mendapatkan pasar, sehingga mungkin terobosannya perlu ada Perda,  meskipun perlu dikaji kebutuhannya,” terang Agus.

Menurutnya, perajin batik perlu dipermudah dalam produksi, misalnya dengan adanya insentif atau subsidi, juga perlu pelatihan agar produk batik juga bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman.

“Dari sisi produksi perlu insentif agar perajin terus giat berkarya, dari sisi pemasaran, bisa jadi jika ada perda, mal bisa kita wajibkan ada space counter batik semarangan, sehingga produk batik semarangan bisa dikenal,” terangnya.

Untuk promosi batik, Agus mengapresiasi pemerintah secara konsisten mewajibkan PNS mengenakan batik. Namun demikian perlu ada terobosan baru agar batik Semarangan lebih di kenal hingga pasar Internasional. (duh)

You might also like

Comments are closed.