Merajut Tali Sahabat dengan Kartu Pos

Kirim ke Orang Tak Dikenal

Selain desain kartu yang menarik, dengan berkirim kartu pos juga dapat mengamati karakter tulisan tangan seseorang dari lintas negara.

kartu pos semarang
Seorang kolektor menunjukkan koleksi kartu pos bergambar Gereja Blenduk dan Masjid Agung Jawa Tengah. Keduanya merupakan landmark Kota Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

 

TIWUK menunjukan koleksi kartu posnya. Belum lama ini, perempuan itu menerima kiriman kartu pos bergambar bendera Kroasia. Itu adalah kartu pos dari kenalannya yang tinggal di Belanda. Tiwuk menemuinya usai menonton piala dunia 2018 di Rusia.

“Kami rutin berkirim postcard setiap bulan. Tapi kadang ada yang nggak sampai juga,” ujar Tiwuk. Kartu pos yang dipegangnya bertuliskan nama seseorang, Brenda van Lier.

Kartu pos merupakan sarana pengiriman pesan tanpa amplop, dengan ongkos pengiriman yang lebih murah dibanding surat. Biasanya dikirimkan orang-orang saat berkunjung ke luar negeri, sebagai semacam kenang-kenangan yang menandai bahwa mereka telah berkunjung ke negara tersebut.

Selain dari Brenda, ribuan lembar kartu pos telah diterima Tiwuk dari berbagai negara. Ia mengumpulkan kartu-kartu itu sejak masih duduk bangku sekolah dasar. Saat itu ia tinggal di Klaten. Ia rutin menulis pada kartu pos, sekaligus untuk mengaktualisasikan kegemaran menulisnya.

“Pak pos sampai hafal dengan saya,” akunya. Perempuan lulusan Universitas Diponegoro itu menyukai desain-desain kartu pos baik dari dalam maupun luar negeri. Ia bilang, desain kartu pos selalu unik.

Salah satu desain kartu pos yang paling bagus menurutnya adalah edisi gerhana matahari. PT Pos Indonesia menerbitkan edisi tersebut di tahun ini. Ia hanya perlu merogoh Rp 15 ribu dari kantongnya untuk mendapat kartu pos edisi tersebut.

“Ternyata, banyak sekali kolektor yang berebut mendapat kartu pos gerhana matahari itu,” ujar Tiwuk.

Selain desain kartu yang menarik, berkirim kartu pos juga memberi pengalaman lain pada Tiwuk. Ia menjadi senang mengamati karakter tulisan tangan sahabat-sahabatnya dari lintas negara. “Yang paling indah itu tulisan tangannya orang Belanda,” kata Tiwuk.

Kartu Pos dari Masa ke Masa

    • 1 Oktober 1869, kartu pos pertama di dunia diterbitkan di Austria, disebut Correspondenz-Karte.
    • Pada 1893, kartu pos mulai dikenal di Amerika. Dijadikan sarana promosi acara World Columbian Exposition, peringatan penemuan Benua Amerika oleh Columbus. Saat itu, tampilan kartu pos dibuat menarik dengan gambar-gambar peringatan acara dan merupakan kartu pos bergambar pertama di dunia.
    • 1901, nama “kartu pos” baru tertera setelah pembuatannya menggunakan mesin cetak. Setelah itu, kartu pos semakin banyak digunakan. Bentuknya belum seperti sekarang. Kartu pos hanya menyisakan tempat kosong yang sempit di samping gambar sebagai tempat untuk menulis alamat. Tidak boleh menuliskan hal lain selain alamat di kolom alamat. Hal itu sesuai peraturan Union Postale Universelle (UPU).
    • Setelah 1906, kartu pos mempunyai sisi belakang yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian kanan diperuntukan untuk alamat dan bagian kiri untuk pesan. Sehingga gambar dapat mencakup seluruh sisi tanpa menyediakan tempat kosong untuk tulisan. Kebanyakan kartu pos diambil dari foto yang masih hitam putih. Kartu pos berwarna diproduksi dengan menggunakan pewarnaan manual dengan kuas halus, seperti mewarnai.
    • Sekitar 1920-an, kartu pos foto hitam putih bisa langsung dicetak dari klise foto. Namun biaya produksinya masih mahal.
    • Pada 1930, mulai dikenal kartu pos berbahan linen. Sejak itu, kualitas kartu meningkat cepat. Gambar dicetak dari foto berwarna dan kertas kartu diberi lapisan mengilap.
(Disarikan dari berbagai sumber)

 

Komunitas

Pada 2013, Tiwuk mengenal situs internet www.postcrossing.com. Dari sana ia mengetahui jika kartu pos memiliki banyak peminat. Semakin hari, peminatnya semakin banyak. Lewat situs itu, seseorang dapat sangat mudah untuk berkirim kartu pos kepada seseorang yang belum dikenal. Secara acak, website akan memberikan nama dan alamat seseorang untuk rujukan berkirim kartu pos.

Caranya, tinggal membuat akun, dan itu gratis. “Kita bisa berkenalan dengan siapapun. Menyenangkan,” katanya. Saking seringnya berkirim kartu pos, Tiwuk memiliki banyak sahabat dari mancanegara. Ia pun sering menemuinya di luar negeri. Sebaliknya, saat sahabatnya berkunjung ke Indonesia, mereka pun menemui Tiwuk.

Komunitas Postcrossing juga ada di berbagai tempat di Indonesia. Di Jawa Tengah, komunitas ini telah memiliki 700 anggota. Menurut Tiwuk, umumnya kawan-kawan yang tergabung dalam Postcrossing di Indonesia menyukai kartu pos bertema perkotaan dan gambar pemandangan alam.

Tiwuk menyebut dirinya beruntung, lantaran dengan bergabung pada komunitas Postcrossing, ia bisa menyenal kolektor kartu pos dari seluruh pelosok dunia. Tapi ada yang Tiwuk keluhkan. Tak jarang kartu pos yang ia atau sahabatnya kirimkan tidak sampai ke alamat tujuan.

“Saya menyoroti bea cukai dan PT Pos Indonesia. Kok bisa tidak sampai, dan sering terjadi. Saya juga heran,” pungkas Tiwuk. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto
Edito: Eka Handriana
You might also like

Comments are closed.