Segelas Air Putih untuk Menggeser Awan Hitam

Joko Menthek Sang Pawang Hujan

Di balik suksesnya acara-acara luar ruangan di Kota Semarang, ada pawang hujan yang cara kerjanya tak mudah

PERNAH menonton konser ST12, Ungu, Gigi, atau nonton Via Vallen manggung di Semarang? Pernah berpikir bagaimana acara itu bisa berlangsung lancar sampai kelar? Siapa orang-orang yang membuatnya demikian? Siapa yang menata panggung, mengurus arus listrik dan mengurus lainnya?

pawang hujan
Santoso Joko Purnomo alias Joko Menthek. (foto: metrojateng/Fariz Fardianto)

Soal hujan adalah salah satu yang harus diurus. Sebuah helatan yang digelar di luar ruangan, pasti akan terganggu jika terjadi hujan. Panggung dan peralatan yang kebasahan air hujan tentu akan menyulitkan penampil dan penyelenggara. Atau bisa jadi penonton malah bubar dan helatan batal.

Untuk urusan kelancaran acara, hujan harus dihindari. Tapi siapa yang dapat mencegah hujan? Tak seorangpun bisa.

“Tidak ada yang bisa menolak hujan. Yang ada itu, bisa menggeser awan mendungnya saja,” Santoso Joko Purnomo alias Joko Menthek membuka obrolan dengan kami di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. Ia menceritakan pengalamannya “bergelut” untuk urusan geser menggeser awan, yang telah dilakoninya selama 12 tahun terakhir.

Berbagai penyelenggara acara, mulai dari penyedia jasa event organizer (EO), perusahaan swasta, hingga perusahaan BUMN pernah memakai jasa Joko Menthek sebagai pawang hujan. Joko menyebut, kemampuannya memindah awan itu diwarisi dari mendiang kakeknya.

“Kakek saya dulu ‘orang pintar’ yang terkenal di desanya,” kata Joko. Meski begitu, menurut Joko, orang awam bisa saja mempelajari teknik menggeser awan.

Joko sendiri tidak memakai ritual yang neko-neko. Jangan bayangkan Joko akan beraksi dengan pakaian serba hitam, ikat kepala, cincin akik yang besar, dan asap kemenyan. Joko berpenampilan layaknya orang pada umumnya. Sewaktu berbincang dengan kami, mengenakan jelana jins dan kaos oblong warna merah.

Keyakinan, menjadi bekal utama Joko dalam bekerja. Kecakapan yang ia gunakan adalah pembacaan arah angin yang tepat. Ke mana angin bertiup, itulah arah yang diyakini Joko untuk tempat pergeseran awan yang berpotensi membawa hujan.

“Ketika dapat oder, saya langsung menuju ke lokasi acara. Saya lihat situasi. Tanpa bekal apapun. Tapi biar orang enggak curiga, saya biasanya bawa segelas air, saya kelilingi lokasinya. Saya cuma baca doa ‘hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nasir’, berulang kali tanpa putus,” beber Joko.

Demi doa yang tak putus, Joko tidak akan tidur semalam penuh hingga acara kliennya dimulai. Jika keesokan harinya langit di atas lokasi acara mulai mendung, Joko tetap merapal doanya. Biasanya, awan mendung pelan-pelan akan berarak mengikuti arah angin. Alhasil, hujan akan turun di lokasi yang dituju angin.

 

Tak Selalu Berhasil

Tidak semua upaya pemindahan awan yang dilakukan Joko Menthek berjalan mulus. Terkadang, Joko juga mendapat halangan. Tak jarang, persaingan antar sesama pawang hujan tak bisa dihindari. Pernah perhitungan Joko meleset, sehingga hasilnya tak sesuai harapan.

“Ketika ada konser ST12, saya sempat gagal. Masalahnya, di dekat lokasi konser ada pasar malam yang juga memakai jasa pawang hujan juga. Tentunya semua sama-sama ingin acaranya sukses. Tapi saya ‘diserang’. Konser baru mulai, hujan langsung turun,” cerita Joko.

Waktu itu, Joko lantas berjalan mengelilingi lokasi hujan. Joko menemukan sembilan bulir beras. “Saya lihat orang yang menyerang, ada di dekat panggung. Saya lempar berasnya, dia tersungkur. Seketika, dia lalu minta maaf kepada saya. Terkadang ada halangan macam itu,” Joko menuntaskan cerita kegagalannya.

 

Terkenal

Joko Menthek termasuk pawang hujan yang terkenal di Semarang. Umumnya, pawang hujan dikenal lewat kabar yang tersampaikan dari mulut ke mulut. Amat jarang ditemukan iklan, poster, ataupun selebaran tang tertempel liar di jalanan, yang menerangkan tentang pawang hujan.

Jessica Celia adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang yang menggunakan jasa pawang hujan untuk kegiatan kampusnya. Ia mengatakan, pihaknya dapat terhubung dengan sang pawang karena informasi dari seorang kawan.

“Waktu itu kami bikin acara di Hutan Kota Tinjomoyo. Kami membutuhkan pawang hujan untuk antisipasi. Soalnya sudah masuk musim hujan. Kebetulan saudara teman saya ada yang pawang hujan. Kami bayar kurang lebih Rp 2 juta untuk acara satu setengah hari,” papar Jessica.

Joko sendiri memasang tarif yang beragam untuk jasanya. “Beda-beda tergantung besar kecil acara dan lamanya acara berlangsung,” tutur Joko. Joko memberi gambaran, untuk tarif acara pernikahan berkisar Rp 1,25 juta. Sedangkan tarif acara konser artis Rp 1,5 juta.

Setelah belasan tahun menekuni profesi pawang hujan, Joko memiliki relasi yang luas. “Saya banyak kenal pejabat, polisi, dan orang-orang EO,” ujar Joko yang berumah tinggal di Perum Korpri Sambiroto itu. Luasnya relasi tersebut secara langsung membuat Joko semakin dikenal masyarakat.

Di luar itu semua, Joko mengatakan upaya menggeser awan hanya bisa dilakukan jika hati bersih. “Percayakan kepada-Nya, karena Dia Sang Pencipta atas segalanya di muka bumi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehendak-Nya. Kita hanya bisa berikhtiar,” pungkas Joko. (*)

 

Reporter: Fariz Fardianto
Editor: Eka Handriana
Artikel ini telah dipublikasikan metrojateng.com

 

Comments are closed.