7 Pelajaran dari Kebohongan Ratna Sarumpaet

Oleh: Hariqo Wibawa Satria

Mengikuti kejadian namun berhati-hati sebelum merespon informasi. Tipe inilah yang luar biasa.

KABAR tentang gempa dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala belum turun dari halaman berita utama. Di tengah kabar pilu, cerita kepahlawanan, juga ulasan ilmuah tentang gempa dan tsunami itu, muncul kegaduhan yang tidak ada sangkut pautnya.

Tak lain adalah berita tentang diserangnya seorang perempuan aktivis Ratna Sarumpet. Ratna yang sempat menjadi anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden Indonesia 2019 mengaku dipukuli orang tak dikenal di Bandung. Prabowo pun menggelar konferensi pers untuk hal itu.

Buntutnya, berbagai spekulasi atas motif penyerangan bermunculan. Polisi, sebagai pihak yang berwenang, lantas mengusut kabar penyerangan tersebut. Namun ternyata, kegaduhan yang terjadi terutama di dunia maya, tak berhenti sampai di situ.

Polisi belum secara resmi mempublikasikan temuan, namun Ratna Sarumpaet justru membuat pengakuan bahwa penyerangan yang ia akui sebelumnya merupakan kebohongan. Ia mengaku telah mengarang cerita penganiayaan, mengembangkan ide itu, serta membiarkan cerita bohong itu tersiar kepada publik melalui media.

hoax ratna sarumpaet
(foto: dok.komunikonten)

Dari kasus ini, ada beberapa hal yang bisa dipelajari. Direktur Eksekutif Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi), Hariqo Wibawa Satria, merumuskannya dalam tujuh hal, sebagai berikut:

Pertama, orang awam tentunya tidak mudah membedakan wajah bengkak akibat dipukul atau karena operasi plastic. Karenanya begitu melihat wajah Ratna Sarumpaet bengkak, wajar banyak orang langsung bersimpati dan menyampaikan duka, bahkan kecaman lewat media sosial.

Kedua, sesungguhnya para politisi juga awam soal ini. Namun tentunya, pada telefon seluler mereka tersumpan nomor dokter, polisi, psikolog, psikiater yang bisa diminta tolong mengecek. Sebelum memutuskan mengunggah hal tersebut di media sosial. Apalagi sampai melakukan konferensi pers. Penting pula untuk setiap organisasi tim sukses merekrut anggota dengan latar belakang berbeda, seperti dokter, psikiater, psikolog, dll.

Ketiga, individu yang mengecam bengkaknya wajah Ratna Sarumpaet di media sosial (sebelum pengakuan Ratna atas kebohongannya) bukan saja pendukung Prabowo – Sandi. Melainkan juga pendukung Jokowi – Maruf, bahkan banyak juga warganet yang selama ini netral. Motif pengecaman bisa berbeda-beda. Bisa kemanusiaan, politik, dan lain sebagainya.

Keempat, individu yang tidak mengecam bengkaknya wajah Ratna Sarumpaet di media sosial (sebelum pengakuan Ratna atas kebohongannya) bisa karena beberapa hal. 1) tidak suka atau pembenci Ratna Sarumpaet, 2) tidak suka Prabowo-Sandi dan kebetulan Ratna Sarumpaet mendukung Prabowo-Sandi, 3) tidak mengikuti kejadian karena sibuk urusan lain, 4) mengikuti kejadian namun berhati-hati sebelum merespon informasi. Tipe nomor empat ini yang luar biasa.

Kelima, sejauh pengamatan Hariqo khususnya pada media online yang terverifikasi oleh Dewan Pers, tidak ada tuduhan. Apalagi mengarahkan pembaca bahwa pelakunya adalah kelompok tertentu. Pada pemberitaan selalu dituliskan mengenai “dugaan” bukan “tuduhan”.

Keenam, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini tergolong luar biasa. Namun hal ini juga terjadi dalam versi lain pada masyarakat biasa. Misalnya, pernah ada kejadian si A menyampaikan ke masyarakat bahwa saudaranya atau pacarnya dibunuh. Setelah diperiksa cukup lama oleh polisi, psikiater, dan ahli lainnya barulah terungkap. Ternyata si A-lah pembunuhya.

Ketujuh, pola pikir jika A terluka maka pelakunya pasti B, itu berbahaya. Kecurigaan di hati boleh saja. Namun kebiasaan langsung menuduh lewat media sosial akan merugikan. Sebaiknya pelajari berbagai pendapat orang yang benar-benar ahli di bidang tersebut, sebelum beraktifitas di media sosial. Demikian juga, jika ada kejadian serupa dengan kasus Ratna Sarumpaet, sebaiknya tidak langsung menuduh di media sosial bahwa ada kebohongan. Lagi-lagi, tunggu pendapat orang yang benar-benar ahli

Situasi bangsa Indonesia sedang sangat berduka. Ada musibah di Palu, Donggala, Lombok dan beberapa daerah lainnya. Karena itu, menurut hemat Hariqo sebaiknya “perlombaan” unggahan soal Ratna Sarumpaet dan hal-hal yang berkaitan, di media sosial diakhiri. (*)

 

Artikel ini merupakan pendapat Direktur Eksekutif Komunikonten (Institut Media Sosial 
dan Diplomasi), Hariqo Wibawa Satria yang dikirim melalui siaran pers. 
Penyuntingan dilakukan untuk keperluan teknis penerbitan.
You might also like

Comments are closed.