70 Persen Perceraian di Semarang Diajukan Istri

Ilustrasi Foto: metrosemarang.com/dok karmeyhesed.org
Ilustrasi
Foto: metrosemarang.com/dok karmeyhesed.org

SEMARANG – Meningkatnya angka kasus perceraian di Indonesia belakangan ini cukup memprihatinkan. Pasalnya, 70% sampai 80% kasus perceraian yang diajukan rata-rata adalah gugat cerai dari pihak istri.

Menurut Humas PA Kota Semarang,  M. Syukri. SH. MH mengatakan, faktor dominan yang melandasi meningkatnya angka kasus perceraian disebabkan kurangnya pemenuhan kebutuhan, baik secara lahir maupun batin.

“Hampir 70% pengajuan gugat cerai karena faktor kebutuhan atau ekonomi. Faktor yang lain seperti kekerasan dalam rumah tangga(KDRT), perselingkuhan atau ada pihak ketiga, dan nikah di bawah umur bisa dibilang masih rendah,” ujarnya kepada metrosemarang.com, akhir pekan kemarin.

Tahun 2014 lalu, imbuh Syukri, dari  total 3.116 kasus perceraian, tercatat yang diajukan pihak istri (gugat cerai) mencapai angka 2.156 perkara atau 70 persen dan 960 perkara lainnya yakni pengajuan talak oleh pihak suami. “Setiap tahun perceraian di Semarang meningkat 5%. Untuk awal tahun 2015 ini rata-rata ada sekitar 300 perkara perceraian setiap bulannya,” terangnya.

Dikatakannya, hal tersebut perlu adanya tindak lanjut oleh pihak yang terkait untuk memberikan penyuluhan atau bimbingan kepada masyarakat, khususnya soal kasus perceraian. “PA hanya bertugas mengadili atau menyelesaikan permasalahan persidangan. Kalau soal penyuluhan harus dilakukan oleh Departement Agama,” tegasnya.

Ia mengimbau bagi masyarakat pada umumnya dalam pengajuan gugat cerai bisa langsung datang ke kantor PA atau bisa juga melalu website pa_semarang.go.id dan pengacara. “Jangan lewat calo, nanti masyarakat sendiri yang rugi. Sekarang juga sudah ada Layanan Pos Bantuan Hukum gratis bagi mereka yang buta huruf, buta hukum, dan kurang mampu,” tambahnya. (ans)

You might also like

Comments are closed.