Ada BRT Trans Jateng, Wulan Bisa Hemat Pengeluaran 40 Persen

METROSEMARANG.COM – Tak sedikit yang merasa diuntungkan dengan kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng. Banyak masyarakat yang terbantu dengan adanya BRT lintas kota tersebut.

Suasana di dalam armada Bus Rapid Trans (BRT) Trans Jateng dalam perjalanan Bawen-Semarang, Senin (31/7) siang. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Wulan Cahyo misalnya. Warga Jatingaleh yang bekerja di Puskesmas Ambarawa mengaku sangat terbantu dengan adanya BRT ini. Dengan Trans Jateng, ia mengaku biaya yang dikeluarkan lebih hemat dibandingkan naik kendaraan umum yang bukan milik pemerintah.

“Dulu sebelum ada ini (BRT Trans Jateng) saya haris ngangkot dulu sampai Banyumanik. Soalnya bus Ambarawa-Semarang tidak lewat Jatingaleh Mas kalau ke arah Ambarawa, dan tarifnya pun lebih mahal,” ujarnya saat dalam perjalanan pulang, Senin (31/7).

Ia mengaku saat menaiki angkutan umum dari Jatingaleh menuju Banyumanik, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 3 ribu. Ditambah lagi tarif bus dari Banyumanik menuju Ambarawa seharga Rp 6 ribu. Jadi dalam sekali kerja, perjalanan pergi dan pulang ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 18 ribu per hari.

“Kalau naik BRT ini lebih enak Mas, lebih murah juga dan ini bisa naik dari Jatingaleh langsung. Untuk tarif sendiri kan saya itungannya umum jadi harganya hanya Rp 3.500,” ujarnya.

Meskipun untuk sampai ke Ambarawa harus naik angkutan umum lagi, namun Wulan memilih BRT karena lebih murah. Untuk kendaraan umum yang ia naiki dari Terminal Bawen hingga sampai di tempatnya bekerja ia hanya perlu mengeluatkan uang sebesar Rp 2 ribu saja. Jadi dengan menggunakan BRT, Wulan bisa menghemat biaya perjalanan hampir 40 persen.

Selain itu, ia menilai timer pada BRT terbilang tepat. Pasalnya dari pengalamannya menggunakan transportasi umum milik pemerintah ini selalu ada armada setiap 15 menit sekali.

“Jadi kalau misal saya kelewat pagi jam 06.05 karena desak desakan saya biasa nunggu lalu 15 menit atau sekitar pukul 06.20 kemudian ada,” ujarnya.

Namun ia berharap pemerintah bisa menambah jumlah armadanya, pasalnya beberapa kali ia harus rela menunggu lebih lama karena menerima tolakan akibat penuhnya penumpang.

“Ya kalau pas penuh gitu kan biasanya direkomendasikan armada di belakangnya Mas, jadi harus nunggu lagi. Kalau armadanya lebih banyak kan lebih enak, nunggunya juga nggak terlalu lama,” pungkas Wulan. (fen)

You might also like

Comments are closed.