Ada Hutan Lindung di Kompleks TBRS, Tak Boleh Diutak-atik

Ritual 'Nyiduk Sendang' di Kompleks TBRS, Sabtu (21/3). Di area ini juga terdapat hutan lindung, sehingga tak bisa seenaknya dialihfungsikan. Foto: Metrojateng/Anton Sudibyo
Ritual ‘Nyiduk Sendang’ di Kompleks TBRS, Sabtu (21/3). Di area ini juga terdapat hutan lindung, sehingga tak bisa seenaknya dialihfungsikan. Foto: Metrojateng/Anton Sudibyo
SEMARANG – Alih fungsi Komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dipastikan tidak mudah. Sebab TBRS tidak hanya berupa gedung-gedung kesenian dan taman bermain anak Wonderia. Sebagian besar lahannya justru berupa lahan berbukit yang ditumbuhi pohon aneka jenis.
Menurut penuturan Didik Untung Suwito (60), Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi telah menetapkan kawasan itu sebagai hutan kota. “SK keluar Desember 2013, bisa saya tunjukkan. Hutan ini luasnya sekitar 5,2 hektare, tapi yang masuk dalam hitungan di SK hanya 1,5 hektare,” katanya, ditemui di TBRS, Sabtu (21/3).
Didik paham benar luasan hutan karena pernah mendampingi petugas dari Dinas Kehutanan Jateng dan Dinas Pertanian Kota Semarang menjelajahi hutan. Dari survei petugas tersebut, luasan hutan ditaksir 5,2 hektare.
“Nah saya tidak tahu mengapa yang masuk SK hanya 1,5 hektare. Tapi batas-batasnya mana yang hutan mana yang tidak itu tidak tercantum di SK,” kata warga Genuk Karanglo, RT 2 RW 2 itu.
Dahulu, lanjut Didik, hutan di TBRS ditumbuhi pohon-pohon besar seperti Trembesi, Kenari, Mahoni, dan Sonokeling. Tapi pada medio 2012-2013, pohon-pohon itu ditebang oleh perusahaan swasta.
Tapi setelah hutan itu habis dibabat, lahan itu dibiarkan begitu saja. “Saya tahu perusahaannya PT Guci, katanya mau dibangun gedung atau hotel. Tapi kok tidak jadi,” terangnya.
Warga Genuk kemudian berinisiatif menanami kembali lahan tersebut dengan bibit bantuan dari pemerintah. Sebagai kompensasi, warga dibolehkan menanam tanaman di bawah tegakan. “Kami membentuk Kelompok Tani Mekar Sari, anggotanya 35 orang lebih, kami mengembangkan pertanian organik,” jelas Didik.
Akademisi sekaligus pengamat budaya Andang Prasetyo membenarkan penuturan Didik. Sebab Andang pernah mengikuti penelitian di TBRS dan mendapati bahwa lahan taman budaya di bagian Selatan berupa perbukitan. “Kawasan itu adalah kawasan lindung yang tak boleh diutak-atik,” tegasnya. (byo)
You might also like

Comments are closed.