Adin ‘Hysteria’ Mengimajinasikan Kota dalam Sebuah Peta

Adin Hysteria Foto: metrosemarang.com/(pri)
Adin Hysteria
Foto: metrosemarang.com/(pri)

METROSEMARANG.COM – Hidup di desa membuat masa kecilnya menjadi serba terbatas termasuk akses mendapatkan bacaan komik atau buku-buku cerita. Kecintaannya pada seni sejak kecil hanya bisa terobati oleh seni wayang, tiap ada pertunjukkan dia selalu meminta ayahnya membangunkan untuk menonton wayang.

Namanya Ahmad Khairudin, pria kelahiran Rembang Jawa Tengah itu mengaku untuk bisa mengakses komik Dragon Ball saja baru dia dapatkan saat kelas 1 SMP. Selebihnya hanya bisa nonton di TV, karena diperpustakaan pun saat itu belum tersedia bacaan komik atau cerita-cerita fantasi untuk anak-anak.

Namun hal itu tidak berlaku lagi semenjak Adin masuk di Perguruan Tinggi Universitas Diponegoro (Undip) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 2004. Dari sana kemudian terbuka akses ke kesenian yang lebih luas. Mulai seni musik, teater, jurnalistik, hingga dia menemukan beberapa teman yang akhirnya membentuk komunitas Hysteria. Dia mengaku saat kuliah rakus dalam mengikuti kegiatan di kampus, hal ini karena banyak kesempatan yang bisa ia dapatkan.

Bersama ketiga temannya itulah dia mulai bertemu dengan banyak teman seperti teman di seni rupa, pertunjukkan, performan art dan lain sebagainya. Dari komunitas Hysteria, Adin dan kawan-kawan mempunyai gagasan untuk mengajak masyarakat mengimajinasikan tentang tata kota. Berikut wawancara dengan Ahmad Khairudin.

 

Bagaimana pandangan Anda tentang tata Kota Semarang?

Kunci partisipasi masyarakat itu masih banyak yang hanya sebatas slogan. Pembangunan dari atas ke bawah itu masih dominan, kita jarang diberi kesempatan untuk mengimajinasikan bersama kota ini dimasa depan. Kasus misalnya pembangunan pasar Bulu, pasar Sampangan, atau taman kota.

Kita kan tidak pernah tahu imajinasi bangunan ini muncul darimana, tiba-tiba sudah jadi, tiba-tiba sudah ada yang protes, tiba-tiba sudah begitu saja. Tapi kita tidak pernah tahu, rencana kota saja kita nggak tahu. Saya pernah lihat pembangunan zonasi yang ditunjukkan melalui peta.

Gambarnya besar, bentuknya baliho, tapi dia terhalang oleh pepohonan dan sudah pudar warnanya. Nanti kalau kita tanya, anda sudah sosialisasi? Sudah, melalui ini. Karena itu diatur di UU. Penemuan di lapangan membuktikan bahwa mungkin belum maksimal sosialisasinya, jadi warga terkaget-kaget kok sudah jadi ini.

Aku pikir belum terlambat untuk mengevaluasi persoalan-persoalan komunikasi yang belum selesai ini. Supaya tidak ngacau, supaya tidak terjadi salah sasaran.

Apa kesulitan yang dialami selama ini?

Tentu saja persoalan bagaimana kemudian kami masuk ke warga, sehingga mereka merasa berteman dengan kami atau membuat kami nyaman dengan mereka, mereka nyaman dengan kami.

Kesulitannya tentu saja karena mereka sering didekati secara fisik, awalnya beberapa warga juga berfikir bahwa akan ada bantuan fisik. Nah, mengkomunikasikan itu yang awalnya agak sulit.

Bagaimana pandangan anda mengenai revolusi mental?

Revolusi mental itu cuma slogan, karena nggak pernah dikerjakan dan dianggarkan secara serius. Kalau kita cek musyawarah perencanaan pembangunan tingkat desa atau kecamatan, nyaris semua diusulkan fisik. Nggak ada pembangunan yang bikin festival, nggak ada yang bikin peta, nggak ada, nyaris semua fisik.

Perbaikan gorong-gorong, perbaikan jalan, perbaikan musala, selalu seperti itu. Ataupun kalau ada pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan ekonomi, pelatihan membuat tempe higienis misalnya, atau pemerahan susu yang sistematis. Artinya selalu top off main-nya yang di dalam pikiran orang itu selalu fisik dan ekonomis. Itu yang menjadi salah satu perhatian kami.

Bagaimana dengan respons masyarakat?

Macam-macam sih kalau respons masyarakat, sesuatu yang kita tangkap ya tentu ada yang senang ada yang enggak. Kalau yang senang tentu orang-orang yang melihat kegiatan-kegiatan kreatif ini bisa memberikan dampak positif. Misalnya mereka akan senang, tapi kalau orang yang tidak senang kan motifnya macam-macam, bisa ego, bisa kegiatan kami mungkin dianggap tidak memberikan dampak.

Saya enggak tahu orang yang tidak senang alasan pastinya tentang apa. Mungkin karena attitude kami tidak baik kan kadang-kadang bikin orang-orang tidak suka. Persoalan ideologis mungkin kami menyuarakan salah satu isu misalnya tentang lingkungan.

Kemudian ada power art, kami laporkan ke dewan, kami lapor ke Satpol PP, kami undang media massa, akhirnya pembangunan berhenti sampai sekarang, kan tentu mereka tidak senang dong.

Susah atau gampang mengajak generasi muda peduli kota dengan berkesenian?

Ya gampang-gampang susah, karena di sini kan sukanya yang instan. Tapi kan kor kegiatan kami juga tidak selalu berfikir bahwa ayo kita harus berkesenian, nggak juga. Kami tidak sedang mengatakan bahwa ayo kita semua jadi seniman. Tapi ayo kita semua peduli pada kota dengan cara masing-masing, kami melakukannya salah satunya dengan jalur kesenian.

Kalau kalian tertarik ayo, kalau kalian punya jaringan tersendiri atau aktif di kesenian sendiri kalau mau diisi konten seperti apa yang kami kerjakan ayo. Jadi kornya bukan mencetak sebanyak mungkin seniman, tapi cetak sebanyak mungkin orang yang peduli pada kota dengan cara masing-masing.

Apa yang ingin Anda berikan kepada masyarakat?

Pertama kami jelas punya gagasan tentang alam yang ideal itu bagaimana, tentang negara yang ideal itu bagaimana, tentang kota yang lebih baik bagaimana. Nah, terkait dengan persoalan masyarakat dan kota, kita kan tentu punya perhatian pada persoalan-persoalan perkotaan karena kota itu seacuh apapun kita kalau terjadi sesuatu pada kota, toh imbasnya ke kita.

Misalnya kita abai pada persoalan sampah, atau persoalan kemacetan, kan baliknya ke kita. Jadi kalau ada kemacetan kita terjebak macet kembali ke kita. Misalnya daerah resapan jadi perumahan tapi kita abai, daerah pantai direklamasi tentu ada implikasi-implikasi iconik terhadap apa yang sudah terjadi selalu kembali ke kita.

Sebagai salah satu daya ungkap persoalan-persoalan itu maupun mengingatkan kembali terhadap persoalan atau memberikan inspirasi atau kalau memungkinkan memberi solusi mengapa tidak. Melalui jalan-jalan yang memang sudah kami lakukan bertahun-tahun.

Kalau kami orang arsitek mungkin pendekatannya lain, kebetulan kami banyak di kesenian makanya kesenian menjadi alat ungkap bagi apa yang kami kerjakan. (M.Khoiruddin)

Foto: metrosemarang.com/(pri)
Foto: metrosemarang.com/(pri)

BIO Adin Hysteria

Nama               :  Ahmad Khairudin

Jenis Kelamin  :  Laki-laki

Status              : Belum Menikah

Alamat KTP    :  Sekarsari RT 1 RW 7, Sumber, Rembang, Jateng

Alamat tinggal  :  Jl. Stonen no 29 Bendan Ngisor Semarang

E-mail              : [email protected]

Pendidikan

-S2 Jurusan Antropologi, FISIP Universitas Indonesia

-S1 Sastra Indonesia, FIB Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang 2011

-MAN (IPA) Lasem Rembang 2003

-Mts Muallimin Rembang 2000

-SD Negeri 1 Majasem Rembang 1997

Pengalaman Organisasi

-Teater Emper Kampus Divisi Penelitian dan Pengembangan 2006 – 2007

-Lembaga Pers Mahasiswa Hayam Wuruk reporter 2006-2007

-Lembaga Hysteria Direktur 2007-sekarang

-Dewan Kesenian Semarang Komite Sastra 2008-2011

-Dewan Kesenian Semarang Biro Pemberdayaan dan Revitalisasi 2012-2017

Pengalaman Kerja

-Warta Jateng atau Tribun Jateng jurnalistik April 2012-Juli 2013 Reporter

-CV Sekararum, Semarang

Penerbitan dan EO September 2014- sekarang direktur

Karya

-Temu Mahasiswa Penyair

Antologi puisi (2007) Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

-Joglo 4, Cerpenis Terpilih Antologi puisi

(2007) Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

-Mencari Rumah Antologi puisi (2008) Mbuh Press, Semarang

-Langit Semarang Antologi puisi (2008) Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

-Aku ingin Mengirim Hujan

Antologi puisi (2008) Komunitasku dan Dewan Kesenian Semarang, Semarang

-Anak-anak Peti Antologi puisi (2008) Komunitas Sastra Indonesia Kab Semarang.

You might also like

Comments are closed.