Agrippina Aileen: Tak Cuma Ingin Bikin Heboh

Agrippina Aileen (paling kanan) saat menerima penghargaan pada 2013 silam. Foto Metrosemarang/Lucky Laurence
Agrippina Aileen (paling kanan) saat menerima penghargaan pada 2013 silam. Foto Metrosemarang/Lucky Laurence

GAGAL melanjutkan studi di fakultas kedokteran ternyata tidak lantas membuat masa depan seorang Agrippina Aileen suram. Sebaliknya, dia justru kini sukses menjadi pengusaha kue dan beberapa kali berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas kreasi kuenya yang cukup menghebohkan.

Aileen, demikian dia akrab disapa, merupakan putri tunggal dari keluarga yang menekuni usaha pembuatan kue. Oleh karena itu, tak heran jika sedari usia 13 tahun, Aileen sudah akrab dengan proses masak-memasak kue.

Selepas menamatkan SMA, Aileen remaja sebenarnya sangat berkeinginan untuk melanjutkan studi di fakultas kedokteran. Namun, impiannya ini tidak pernah terwujud lantaran orang tuanya lebih berharap agar dia meneruskan bisnis keluarga. Posisinya sebagai anak satu-satunya membuat Aileen tak bisa mengelak dari keinginan orang tuanya.

Selain meneruskan bisnis keluarga, Aileen kemudian juga membuka toko bahan dan tempat kursus membuat kue yang dia beri nama Fortune. Toko itu dia kelola bersama sahabatnya, Ifen.

Tak hanya kompak dalam mengelola bisnis, Aileen dan Ifen juga kompak dalam hal pembuatan kue. Keduanya kerap menghabiskan waktu untuk menciptakan kreasi kue baru, maupun mengikuti kompetisi membuat kue yang diselenggarakan di luar kota. Aileen bertugas membuat bahan dasar kue, sedangkan Ifen yang mendekorasinya.

Aileen dan Ifen kerap menggemparkan kota ini dengan kue-kue ciptaannya yang dibuat super besar menyerupai bentuk tertentu. Tahun lalu, misalnya, Aileen, Ifen dan para peserta kursus di Fortune membuat kue ulang tahun terbesar berbahan dasar tepung bekatul. Kue raksasa ini dipamerkan di Paragon Mall, Semarang. Kreasinya ini mendapatkan penghargaan dari Muri, dan melengkapi empat penghargaan Muri yang sudah diperolehnya untuk kreasi lainnya.

Keberhasilannya menciptakan rekor dunia menginspirasinya untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi di masa mendatang. Tidak hanya yang heboh-heboh saja, namun kreasi yang semakin baik kualitasnya. Sehingga kreasinya itu tidak hanya menjadi torehan prestasi untuknya, namun juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Hal ini sebagaimana prinsip hidup yang selalu diteguhinya, yakni ‘to live is to serve’, hidup untuk melayani sesama. (ren)

You might also like

Comments are closed.